Tag Archives: the art of being in pain

Sampai kapankah kita merasa cukup akan kehilangan?

Menepi aku pada sudut kota di mana lalu lintas tak lagi padat dan orang-orang enggan bergegas. Menepi aku di dalam bayang entah apa yang meramu sendu. Menepi aku pada reminisensi masa lampau;

Menepi aku pada

kau.

Photo 5-12-15 19 39 34

Sampai kapankah kita merasa cukup akan kehilangan?

 

Begini mulanya ingatanku terpaut pada hari-hari di mana kita tak henti bersenggama. Tawa canda menggelegak seirama. Kau aku serupa sambutan embun di pagi hari atau sinar senja jingga merona mentari yang pulang ke pangkuan ibunya. Kau aku, sebuah pesta di mana semua orang mabuk kepayang, melupa masih ada gores di dada yang bergentayang.

 

Kau aku kau aku kau aku kau yang mengabaikan kata kita yang pernah ada. Kita yang mengangkang dan lidah yang menari hingga menggelinjang. Pikiran kian melayang. Rebah hangat di balik dengkurmu yang tenang.

Semua telah pupus. Aku tinggal mampus.

 

Ke mana kita yang berdistraksi? Menyibukkan diri dengan kesibukan yang dimulai sendiri. Kesibukan yang diada-adakan hingga terlelap. Riang pendar yang menggelegar di tengah gelora, usai sudah masanya menjadi gemerlap. Alih-alih terjaga, aku tertidur dalam pangkuan hangat hadir belaian. Sampai lupa ke mana akan kau bawa ini kenangan.

 

Photo 16-2-15 23 48 18

 

 

Kala jalanan berbukit menghembuskan bau air asin di tengah hening yang bergeming menghempas pesona, masih juga kau dalam diammu yang tertenun keindahan di dalamnya. Dan aku, masih juga dalam kemelut rasio dalam kepala.

Lamunku menelangsa bersama hembusan nafas ketidakpastian yang telah kucampakkan jauh-jauh pada celah jendela. Genggaman tanganmu yang hangat menimbulkan tanya, “Jika suatu saat ada yang bertanya tentang siapa aku dalam hidupmu, apa yang akan kau katakan pada mereka?”

Resah menyiratkan pilu di pelupuk yang dilentingkannya. Ia menjerat tatapanmu hingga membatu, namun aku enggan menyerah. Deru tanya tak sungkan pamit. Geram memuncak. Aku ingin berteriak serupa maniak. Deru kian memburu. Gelagat amarah ingin memukul dinding hingga lebam tangan dibuatnya. Lontaran pertanyaan terus menjemput sambutan mata yang tak berani menatap sambil berkaca-kaca entah karena apa. Membuatku bungkam seribu kata.

 

Processed with VSCOcam with p5 preset

 

Dalam kehidupan ini semua orang menghindar luka. Memberi sejumput rasa kematian katanya. Sejumput saja rasanya ingin mati sebenar-benarnya. Alangkah lucunya mereka yang mengejar terang dengan melupa gelita. Memberi kesempatan pada cinta kini serupa kekolektifan delusi yang penuh dusta. Semburan fakta kini hanya kesemuan hidup dalam kusta. Tak kau tengok dan resapi makna mengapa orang-orang yang berkabung pada saat melayat memakai baju hitam-hitam semua? Coba sejenak kau pikir mengapa! Karena kematianlah terang sesungguhnya! Dan terang cahaya tak akan berestetika tanpa gelap di sekelilingnya. Terang akan selalu saja milik gelap.

Terang akan selalu saja milik gelap.

Seandainya kau tahu aku telah melalui banyak kematian. Kehilangan-kehilangan yang datang tanpa sempat memiliki. Kehilangan-kehilangan senada. Kehilangan yang menuai lebih banyak derita di baliknya, sebab aku sekaligus harus kehilangan kehendak memiliki sebelum kehilangan yang tak termiliki. Perputaran hidup hanya di sekitar itu-itu saja. Belum lagi kau pikir kehilangan sesuatu yang jelas ada keberadaannya di depan mata. Lebih pelik lagi, sebelum mendapat hadir sebuah kedatangan, aku telah kehilangan.

 

Kembali aku mengenang masa kecil tanpa sosok yang menjaga. Ibu di depan mata namun tiada. Sesekali hati kecil menangis terisak haus akan pelukan yang tak pernah dirasakan kembali semenjak kesadarannya semakin ada. Pelukan masa bayi terasa seperti ilusi. Mengingat rasa itu saja aku tak bisa. Maka kembali duduk di depan regukan diam ibu seperti saat itu, terdengar senyap tangisan terisak pinta untuk merasa bahwa eksistensiku ini nyata. Bahwasanya aku tak pernah menjadi ada.

Pula aku mengenang tepian danau di saat berkelana kami, aku dan layang-layang, menuai harapan. Dan aku merasa terisi. Penuh. Sejenak aku lupa kalau aku sepi. Bahwa kesendirian adalah sebuah inkarnasi utuh atas aku dan diriku yang penuh.

Tidurlah aku dalam hisapan kata-kata di dalam tumpukan lembaran cerita di genggaman tangan yang selalu kubawa ke mana-mana. Di sana kan kau temukan mereka yang mencintai. Mereka yang memiliki derita serupa. Mereka yang tertawa sembari bercerita.

Mereka yang hidup.

Mereka yang hidup.

Mereka yang hidup dalam aku.

Menghantar kebersamaan dalam kesendirian. Membuka lingkar taman penuh bunga dan sepoi-sepoi angin di tepian danau untuk menghalau sepi.

Lagi aku merasa terisi.

Penuh.

 

Lalu tanya menderu kembali. Kau masih juga dengan diammu yang melengkapiku. Hidup tak henti-hentinya mencabik jiwa dengan sengsara. Kau terus menjauhinya.

Kau

terus

menghindarinya.

Lantas hindaran bergaung memberi siksa yang makin berleluasa. Bertekuk lututlah segala dengan mulut terkunci enggan bersuara dan menyembah entah apa. Lantaran lelah kian menggerogoti raga.

 

Bilur-bilur kehidupan mana yang pernah kunjung reda? Geramku memuncak kembali. Ada kesedihan yang menggaruk di dalam diri. Mengamuk hingga satu abad kehidupan dapat diremuk.

Masih tak kutemukan jawaban di ujung kelopak matamu yang tak lagi sanggup menghadapi lara yang bertegur sapa pada kedua bola mataku. Sungguh, di dalam ketidakpastian sebagai bagian dari sandiwara kita terhadap kehampaan, aku akan kembali memeluk kehilangan. Lagi-lagi aku kembali kehilangan tanpa wujud kepemilikan.

Pilu tak pernah malu menyambut.

Aku tak pernah sungkan memeluk tenggelamku yang berkabut.

 

Photo 8-9-15 17 07 14

 

Sampai kapankah kita merasa cukup akan kehilangan?

 

Ia yang merasa kehilangan berkali-kali tak akan menemukan dirinya merasa kehilangan kembali.

Menepi aku pada tepian pantai dan buih ombak kecil yang menyimpan sunyiku. Menepi aku pada gemulai rintik hujan, merintih segala ingatan untuk dilupakan.

Menepi aku pada reminisensi masa lampau;

Menepi aku pada kau.

Photo 6-2-16 09 41 27

 

 


Kepada

Yang bersujud melupa wujud

Yang belajar terus merasa cukup

            agar hidup tak terus telungkup

Yang mengumandangkan syukur supaya

            tak tersungkur

Yang enggan letih berkontemplasi

            sebab tanpanya segala terasa basi

Yang mencintai sepenuh hati

dengan menolak terikat karena sadar

memang tiada yang pasti

 

Jika

Hidup bertemu mati

Perjumpaan memeluk perpisahan

Keasyikan senggama dan keseriusan selangkangan

            kian pudar pada masanya

 

Maka,

Mengapa tak letih gaung egomu bertahta?

 

Sampai kapankan kita merasa cukup akan kehilangan?

Ia yang merasa kehilangan berkali-kali tak akan menemukan dirinya merasa kehilangan kembali.

 

Advertisements
Tagged , , , , , ,

The Art Of Being In Pain: Transcendental Tragedy (From Chaos To A Dancing Star)

cross the boundaries a paradox of choices (2012)

cross the boundaries // a paradox of choices (2012)

“You know why people cut? It’s a distraction. For one moment, you don’t feel all the pain, the loss, and the hurt. All you feel is that razor going into your skin, the blood dripping down your arm, leg, stomach. You don’t think about how alone you are or how ugly you are. You don’t think about the way people talk about you behind your back, the bullshits they spread behind you about you. Or about how broken your family is. All you think about is the blood.

And the addicting part? That’s when all the hurt and pain comes back; when the cut isn’t fresh and you can feel all the build up of sadness and loneliness inside you. So you have to do it again, but a little deeper so the numbness will last longer, the pain inside will be delayed longer. And as the pain inside gets worse and worse you have to make the pain outside worse and worse. It’s all about control. You have it.

If you can’t control the pain outside, some people may think that it’s so stupid, a weird thing to do for hurting yourself.

But those who have been in this situation would understand.

The situation when everything is screwed up, everyone seems on the opposite and blaming you for the things you didn’t do. And for the moment, those who know God might think that God doesn’t want them too.

We hurt ourselves to try to kill the pain inside because the physical pain really works cover the pain inside. You don’t know how it feels like to be completely hopeless and being hurt until you can’t cry or say anything. And you need something to distract it. You need something to make at least yourself forgets the pain, even just for awhile.

When I was younger, I could never truly imagine on why someone ever wanted to kill themselves. But what it’s like to have that feeling like you’re worthless, to feel like no one would really care if you just disappeared. I understand now that words hurt. I know what it’s like to be in that person’s shoes. You don’t have any idea how hard someone life’s. You can’t judge them by how they act in front of you. Some of your friends might smiling all day and cheering everyone else who’s blue, but maybe they have to cry themselves to sleep.”

-Andrea Naomi Y

I will tell you something about pain. I know you know if we know nothing more about it than a feeling. It hurts. It kills. It makes us to blame nothing but this reality as it is. No matter how much we try to shut it, we will never can.

a collection of visual body poetry (2012)

a collection of visual body poetry (2012)

I was there. I cut myself. I seek for help. I had cried to the outside of my inner world for years, wishing for someone to come and bring me to heaven. No one was there. I went to the professionals but couldn’t depend on them for a long time because I didn’t have enough money (90.000/hour not including the meds, 8 years ago) for God’s sake. I decided to take illegal drugs and whatsoever it is to repress the pain.

Yes, we drink too much alcohols, we put on our “I’m fine” masks everywhere we go, some do drugs and false religion of sexual behaviors, others go for a run, and everything that sounds metaphor. We did it because the society has told us to do it. We have been living in a miserable culture where feelings are not welcome and embarrassing. As the result, we repress our feelings. We cut off ourselves off of the healing process. We don’t have time for self-understanding. When that chance of the best thing in the world is closed, what is left to us is acting out of being bad, being depressed and addictive behavior of all kinds.

They called me crazy, attention whore, and loser. They tried as much as they can to avoid me. Those eyes and words that I would never forget until the rest of my life stay in mind. They are a part of me.

 

One thing I understand about pain. We can’t shut it. No matter how hard we try, we just can’t. We absolutely have no reason not to feel it, because we need it.

 

We need pain as much as we need love, hope, and oxygen. We need pain to know what is missing in our life. We need pain to realize no matter we want to be content, we would never be, because there is nothing in this reality could make us feel content. We need pain to learn that all of these physical things are nothing but an illusion. All of us are fana.

Furthermore, we need pain to survive, to find out an interesting fact with cognitive dissonances covered it on the surface; what is it lies inside our bodies. When we have known the truth of pain and the universe itself, thus we can focus on being: to become everything, to become immortal, and to keep on living.

And now, I could say that I’m much better than before. I washed my body at a hidden sacred place and have learned how to implement laughing therapy in Bali, took 10-day Vipassana meditation courses, and yes it works; the mad sounds inside my mind are gradually gone. I could even isolate myself for months in solitudeness. The pain, the chaos, and the darkest time have brought me to that “Good day sunshine” kind of life.

 

Eat good, drink water, rest well, and meditate.

I am inter Om.

Bhavattu Sabba Mangalam.

 

Tagged , , , ,
Advertisements