Tag Archives: Relationship

Keseimbangan

Jika kau adalah yin, maka aku wajib menjadi yang.

Jika kau serupa gaungan id dengan kedestruktifannya, aku lekas menjadi superego,
dan kita bercumbu di pusat
ego.

Jika kau lantas bersubmisif, akulah sang dominan penunjuk arah.

Jika kau menjelma logika, biar aku menjabat rasa.

Jika kau selaku gelap, aku mestilah sang terang.

Kita mesti “seimbang”, agar tak “goyang”.

Aturan untuk kutub-kutub magnet lantas berbunyi: Kutub-kutub senama akan tolak-menolak dan kutub-kutub tidak senama akan tarikmenarik.
Jika dua kutub utara saling didekatkan, kedua kutub tersebut akan tolak-menolak.
Demikian juga halnya jika dua kutub selatan saling didekatkan.

Lantaran yang telah dibangun,
sepatutnya dirawat dengan sungguh-sungguh.

Dengan secangkir kopi murahan yang masih dapat dinikmati dengan kesederhanaan, berdua menjaga nurani adalah tanggungjawab penuh,
agar jiwa enggan lagi berpeluh.

Tak boleh kita sama-sama menukik ke utara. Habislah segala. Muncullah berhala.
Tak boleh kita sama-sama turun ke selatan.
Hancurlah semua. Meraba-raba jalan yang ada.
Lalu kita menjadi tiada.

Asmara jangan biarkan lebur dalam api sengsara.
Tidak merasa cukupkah kita dengan yang sudah-sudah?
Cinta biarlah belajar tentang dirinya meski harus gagal berulang-ulang.

Sebab belajar mencintaimu telah menuntunku untuk “pulang”.

Advertisements
Tagged , , , , , , , ,

Aku Tak Mau Terikat, Agar Terus Dinamis

Soe Hok Gie

Aku kira pada akhirnya kita harus memilih, apakah kita mau menjadi pastor atau domine. Aku katakan pada dia bahwa aku tak ingin punya pacar dalam keadaanku sekarang, karena aku tak ingin membawa pacarku dalam kehidupan yang keras dan kejam. Dan aku tak mau terikat, agar aku bisa terus dinamis. Aku hanya mau pacaran kalau dia mau mengerti dengan keadaanku.

-Soe Hok Gie

Saya sejujurnya agak bingung dan menertawakan diam-diam mereka yang seperti mau mati kalau tidak pacaran. Seakan dunia kemudian runtuh dan kehidupan punah seketika.

Padahal, benar seperti apa yang Soe Hok Gie katakan, bahwa kalau saja terikat kita tidak akan bisa terus dinamis. Pasti ada tanggung jawab berlebih bukan tentang diri sendiri, namun apa saja yang menjadi pasangan dan mengikat diri ini untuk tak lekas jauh-jauh dari kata “Kalau sayang harusnya bla bla bla” dalam pikiran yang kemudian sebenarnya hanya mengedepankan ego sendiri. Jarang sekali bisa ditemukan pasangan yang bisa menerima keadaan masing-masing.

Kalau sendiri, kita bisa lebih maju. Bergerak terus tanpa halangan. Tanpa harus ada larangan ini itu, atau kebutuhan pihak kedua yang mendesak untuk harus ada.

Lah, terus kalau saja kamu sesak belaian?

Jawabannya adalah pilihan. Semua orang berhak memilih kehidupan yang dijalaninya dengan menimbang mana yang lebih banyak memberi ruang untuk terus berkembang.

Tagged , , ,
Advertisements