Tag Archives: Peace

Semestaku pepat oleh ketiadaan

Tulisan ini teruntuk kepada seorang puan penjalin rasa hangat di dalam dada bernama Kinanti. Semoga kelabumu segera berganti.

Terima kasih telah membawa kembali pulang. 


 

Semestaku pepat oleh ketiadaan. (@thalitafred, Tinder profile desc, 2017)

Saya terperangah membaca keanggunan kalimat di atas. Namun sebab kalimatnya masih terasa kurang lengkap, maka manusia seringkali masih menjalani kehidupan dengan gagap. Di sini saya mencoba lebih jauh mengungkap.

Teringat ketika mendatangi Lawangwangi Art Space di Bandung, ada sebuah karya seni yang saya-lupa-entah-siapa menggarapnya, berjudul, ia ada dalam ketiadaannya. Dengan ini, yang tadinya kurang lengkap maka kini makna secara keseluruhan dapat diserap.

Jpeg

 

Semestaku pepat oleh ia yang ada dalam ketiadaannya.

Kita tahu bahwa semesta hanyalah kumpulan atom yang membentuk molekul-molekul. Namun, pengetahuan harusnya didalami tanpa batas. Ditebas hingga tuntas. Habislah segala.

Atom berisi sub partikel neutron dan proton; Bayangkan sebuah biji kacang hijau kecil di tengah lapangan bola. Itulah mereka yang dikelilingi oleh cahaya elektron. Atom yang membentuk molekul, kemudian membentuk sel, lalu materi yang bisa ditangkap oleh panca indera. Namun, karena keterbatasan indera tersebut, kita melihat seolah-olah segala adalah padat. Padahal yang terjadi hanyalah benturan dan gesekan elektron itu. Secara hakiki, segala yang pada semesta adalah benda yang semu tanpa kepadatan sama sekali.

Selagi saling menggengam tangan dan memeluk, tak pernahkah terpikir bahwa kita jua satu yang banyak itu? 

Inilah yang disebut Quantum Theory.

Fana. Anatta. Nihil. Suwung. Sunyata. 

Berbeda bahasa, sama makna.

Jadi, sebutir atom tadi sama sekali tidak terdapat kepadatan melainkan getaran energi frekuensi atau gelombang energi yang berputar. Atom yang terdiri dari sub partikel (proton, elektron, dan neutron) tadi terdiri lagi dari quantum, quarks, leptons, dan positron. Merekalah yang merupakan seluruh materi dalam alam semesta. Materi, energi dan gelombang memiliki hubungan yang tidak terpisahkan, karena masing-masing keberadaannya dipengaruhi oleh yang lainnya. Energi memiliki sifat partikel (materi) dan materi memiliki sifat gelombang.

Dalam model atom, maka ruang kosong akan dijaga oleh electron. Sehingga ruang tersebut tetap menunjukkan karakteristik materi tersebut. Seperti ini keadaan ruang dan waktu. Keadaan ruang dan waktu akan senantiasa berada didalam energi ikat, yang dinamakan energi kesadaran. Consciousness.

kashmir-shaivism1

“And to Allah belongs the east and the west. So wherever you [might] turn, there is the Face of Allah.” – AlBaqarah115

Tersontak saya terus ingin terus berjalan dalam perjalanan berkenalan dengan apa yang mereka elu-elukan. Dengar teriak bahwa mereka mencintai tuhannya. Menggebu-gebu sekiranya dapat dijelaskan. Sembari geleng-geleng kepala yang menuai senyuman garis bibir tipis muncul ke permukaan, pertanyaan saya masih tentang persoalan yang sama.

“Lah, katanya cinta. Sudah kenalan belum sama gusti? Sudah PDKT?”

Tersembur dalam kepala karena merasa lelah. Terlalu banyak iman pemakan dogma yang meresahkan keamanan orang-orang sekitar. PDKT sama gusti enggak gampang. Bukan guyonan.

Iqra.

Konon katanya ini wahyu pertama yang diturunkan oleh semesta pada Muhammad ketika bersemedi di gua Hira. Tak hanya tulisan di atas kertas, segala yang ada dan terbentang di semesta pun bacalah. 

Semedi. Samadhi. Meditasi. Berdiam diri.

Beda bahasa, sama makna.

 

Dalam menunaikan PDKT dengan cara ingin tahu siapa gusti, perjalanan menuju pengetahuan atau pemahaman terdalam tentang sifat realitas sangatlah perlu.

Olah rasa. Olah nafas. Vipassana. Tassawuf.

Beda bahasa, sama makna.

Demi Moksa. Nirwana. Surga. Enlightenment.

Kebebasan yang sebenar-benarnya.

Penerimaan atas penderitaan dan mentransformasikannya ke arah yang lebih tinggi. Sebab itu kita harus belajar hening. Belajar untuk diam dan tidak melakukan apa-apa. Menerima. Dan terus merasakan getaran gelombang energi tadi. Agar cintanya sarat makna. Lebur, biar tak lagi terus tersungkur karena yang tersisa hanya mengucap syukur.

Seperti metamorfosa Ubermensch dalam Thus Spoke Zarathustra –The Child:

 

“But say, my brothers, what can the child do that even the lion could not do? Why must the preying lion still become a child? The child is innocence and forgetting, a new beginning, a game, a self-propelled wheel, a first movement, a sacred “Yes.” For the game of creation, my brothers, a sacred “Yes” is needed: the spirit now wills his own will, and he who had been lost to the world now conquers his own world.”

 

Bagi Nietzsche, segala ciptaan muncul dari keadaan permainan ini. Bila seseorang dapat mencapai pikiran anak-anak, maka dunianya akan dipenuhi keajaiban dan kegembiraan. Seseorang tersebut dapat menghendaki kehendaknya sendiri, menciptakan kebajikannya sendiri, dan dengan demikian menciptakan realitasnya sendiri. Dalam menjalani metamorphosis akhir ini, roh menguasai dirinya sendiri, menaklukkan dunianya, dan mencapai keadaan ubermensch. Moksa. Nirwana. Surga. Buddha. Pembebasan.

 

Bahkan dalam secangkir hangat kopi hitam pekat di depanku ada kau. Ada aku.

Kita benar ada dalam ketiadaan.

Kosong adalah isi. Isi adalah kosong.

Cinta yang mencintai cinta.

Manunggaling kawula gusti.

 

Advertisements
Tagged , , , , , , , , , ,

Implementasi Amorfati

Kilas balik sedikit kehidupan yang telah saya jalani sejak dua minggu lalu, rasa-rasanya kini saya bisa benar-benar focus on being daripada having; Setelah dua weekend sebelumnya sukses memberi makan jiwa dengan a blot of life .

Dan itu bukan hanya trip yang senang-senang saja seperti kebanyakan orang lainnya karena saya kerap kali memulai atau menengahi kegiatan blottering itu dengan meditasi 20 menit dan melanjutkannya dengan berenang di dalam air yang rasanya seperti diving in a pool full of stars.

Ini adalah visualisasi yang bisa kamu rasakan tentang bagaimana serunya perjalanan saya di hari Sabtu minggu pertama ditemani oleh kawan-kawan sepermainan yang paling setia walau tak pernah nyata di depan mata bernama Bjork, Velvet Underground, dan Mono of Japan.

IMG_0438.PNG

Menggelora sekali, ya! Saya yakin kamu akan sedikit merinding ingin mencoba setelah melihat sebuah inkarnasi pengalaman seperti ini.

Sebenarnya saya sudah lama tidak masuk lagi ke dalam gua semesta semenjak Love Garage 2014 tepatnya di Jakarta kemarin sambil berajojing ria dengan Phoenix dan syahdunya hujan di tengah konser.

Tapi saya tidak bisa bohong, walaupun sudah kembali ke rumah, ini tetap menjadi trip yang sungguh menyenangkan seperti biasanya. Di hari Sabtu minggu kedua, tepatnya dua hari sebelum hari ini, saya juga kembali dengan kebahagiaan yang akan sulit memudar seperti itu.

Kalau saja sebelumnya saya menikmati semuanya sendiri, di malam itu bersama tiga orang lainnya, kami telah memutuskan untuk mengadakan trip di tepi pantai. Perasaan gairah pada kehidupan yang didapatkan ketika dilakukan bersama-sama memiliki momen menyenangkan yang berbeda. Namun keduanya sama-sama tiada terbandingkan. Playlist yang saya sengaja pilih dan putar malam itu pun juga tak kalah membuat keadaan semakin membuat jiwa merasa nyaman karena telah diberi makan.

IMG_0771.JPG

IMG_0565.JPG

Portishead, MEW, Disclosure, Pink Floyd, dan Payung teduh serta John Lennon pun muncul ke permukaan sebagai penutup yang telah berhasil menggenggam kedamaian segerombolan anak muda yang menikmati hidup sampai ke dalam rahasia semesta (psst, walaupun saya yakjn mereka belum mengeruknya).

Hingga tinggi
Hingga melayang
Hingga terlena dan pasrah akan Samsara yang merasuki diri kami bersama.

IMG_0789.JPG

Saya tak pernah bosan dengan film dokumenter ini. Samsara sendiri memiliki definisi the cycle life and death. Dan sesuai dengan judulnya, film itu mencekik kehampaan yang terus membunuh ego-ego kami; sebagai yang tak tahu diri pada siapa yang hidup di dalam tubuh ini.

Ah, sudahlah. Rasa-rasanya saya tidak akan berhenti mengetik jika mengikuti imajinasi yang menggebu-gebu di dalam kepala.

Maka sekarang, dengan tersenyum geli melihat poster sebagai hadiah yang diberi dari hasil curian diskotik oleh seorang tetua ketika ia sedang tidak sadar, saya akan mengakhiri malam ini dengan Janis Joplin sampai tertidur lelap dengan mengucap banyak syukur pada keputusan untuk meng-amorfati-kan segala.

IMG_0791.JPG

 

Tagged , , , ,