Tag Archives: eksistensialisme

ANAPANASATI: BECAUSE MIND IS A WILD ANIMAL

Cobalah berhenti sejenak untuk bernafas agar menjadi lega. Lalu kamu akan tertawa. Sebab tetap saja setelahnya segala mulai mengerumuni kekosongan di dalam kepala. Ia menolak untuk membisu. Andai saja pikiran itu memudar, maka banyak orang akan merasa kehilangan arah. Mungkin mereka belum terbiasa atas hening yang memberi nikmat ketenangan.

Namun bukankah kita, manusia, adalah sesuatu yang tidak lebih dari ketiadaan? Tidak kali pertama saya tersentak oleh eksistensialisme, sebuah wujud kebenaran semesta, kalau saja masih ada yang selalu bertanya tentang tujuan hidup ini yang tak satu setanpun tahu seperti mengutip tulisan Soe Hok Gie sebelum kematiannya. Apalagi sebuah rasa yang datang dan menuai nyeri di dada ketika Gaspar Noe sendiri berucap “Living Is A Selfish Act” dalam filmnya yang berjudul Seul Contre Tous (I Stand Alone). Saya menonton film itu dua bulan lalu, dan yang dapat ditemui dalam film ini, tak lebih dan tak bukan, hanyalah suara dalam kepala lelaki tua yang penuh ironi dan menuai pembenaran terhadap keyakinan yang terus bertahan tanpa henti saat diterpa oleh badai realita.

schizophrenia

Lalu bagaimana dengan para penderita schizophrenia di luar sana? Bukan hanya itu, para penderita insomnia dan penyakit kejiwaan lain nyatanya memiliki masalah yang sama. There is no such thing more dangerous than the mad sounds in our minds. 

“My thought is me: that’s why I can’t stop. I exist because I think… and I can’t stop myself from thinking. At this very moment – it’s frightful – if I exist, it is because I am horrified at existing. I am the one who pulls myself from the nothingness to which I aspire.” – Jean-Paul Sartre

Meleburkan diri seutuhnya dalam Nausea yang dituliskan oleh Jean-Paul Sartre bisa jadi berupa satu pengalaman yang tidak pernah bisa dideskripsikan. Alih-alih melahirkan orok penolakan, muncullah Descartes, seorang filsuf perancis, dengan senggolan menukik tajamnya; Cogito Ergo Sum (Aku berpikir maka Aku ada), rasa-rasanya menjadi sebuah kebenaran mutlak. Tak pernah ada pikiran yang terlahir kecuali atas kehendak si pemikir sendiri. Tak pernah ada aku.

We all have struggled with a thing called mind games for too long.

Kalau saja tak acuh mencari cara untuk mengembalikan pikiran tadi terhadap kekosongan yang berisi dan isi yang berkekosongan menjadi satu-satunya pilihan, wajarlah jika banyak manusia terus berada dalam gejolak pikiran yang tak akan pernah ada habisnya.

Beberapa solusi yang telah saya temukan dan jalani, salah satunya adalah Anapanasati (Respiration Awareness).

Titik awal pencapaian dapat diperoleh dengan merasakan nafas itu sendiri. Sudikah kita kiranya sadar bahwa kebanyakan dari masing-masing yang memiliki kehidupan seringkali lupa bernafas? Kita seringkali lupa benar-benar merasakan bahwa nafas itu ada, selain setelahnya diikuti oleh kesadaran yang lebih besar, bahwa nafas itu sendiri adalah sebuah hal paling penting karena ia telah memberi makan Roh yang menggerakkan Daging ini sepanjang waktu.

Manusia telah lama luput atas kesadaran yang amat begitu mudah dan sederhana dibandingkan dengan kerumitan persoalan hidup yang mereka hadapi. Karena itu untuk bergumul dengan empati dalam diri tak pernah membuat saya lelah memberi kebaikan pada sesama.

It’s all in your mind. And I guess it’s true. Whether you like it or not, mind is a wild animal. Thus you got to tame your own mind for it is the only way to reach the crown of life.

Tagged , , , , ,