Tag Archives: disconnect to connect

Disconnect To Connect

Saya pernah mengalami masa itu. Masa di mana jarang sekali merasa sadar dan menyatu dengan apa yang benar-benar terjadi di sekeliling, melainkan di dalam telepon selular yang saya genggam.

Rasa-rasanya slogan kampanye Nokia yang berbunyi “Connecting people” beberapa tahun silam, konon sekarang telah berubah menjadi “Connecting phone” saja. Karena bertemu muka dan bercakap-cakap secara langsung sudah kehilangan esensinya.

Semakin kemari, semakin saya berpikir panjang ketika memikirkan kembali diri yang sempat berlama-lama menyelam di dalam layar handphone yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihat yang itu-itu saja; Sebosan itukah kita terperangkap dalam kehidupan?

Bahkan banyak sekali yang kemudian merasa gelisah jika saja si handphone tiba-tiba kehabisan baterai dan tidak ditemukan colokan di sekeliling. Atau ketika paket data habis dan tidak ada wifi. Paling bahaya adalah ketika si telepon genggam itu sendiri hilang dari genggaman. Losing your phone is more dramatic than getting a D for final test. Alangkah lucunya!

Setelah hampir melalui masa dua minggu tanpa terlalu sering melihat handphone dan juga sukses deaktivasi akun social media, I started being more present. I realized that when I disconnect from the outside world, I could start feel more connected with myself afterwards.

Apa yang salah dengan kebanyakan dari kita?

Apakah dengan memiliki kebahagiaan yang sudahlah semu di dunia fana, haruskah kini beralih menjadi lebih amat semu di dunia maya?

Telah banyak yang saya coba pahami ketika masih aktif membaca maupun memposting di akun-akun yang telah saya deaktivasi itu. Ketika bencana alam menerpa, perang yang terjadi di belahan dunia manapun beserta korban yang tidak mereka kenal itu… malahan menjadi lebih sukses menarik seluruh perhatian satu-persatu dari mereka.

Ironinya, mereka melupakan orang-orang terdekat. Yang mungkin menjadi yang terburuk, kalaulah mereka memiliki keberanian, akan lebih memilih untuk mengakhiri hidup dengan cara yang paling tidak mengenakkan untuk didengar.

Bahkan saking muaknya saya pada satu momen bencana alam di Yogyakarta waktu itu, kemudian saya dengan terang-terangan memposting tulisan yang menertawakan segala perilaku mereka. Mirisnya, yang mengatakan “saya bukan seorang manusia yang memiliki hati” adalah orang-orang yang cukup dekat. Lalu dengan seenak jidat, saya memposting angka kematian korban bunuh diri yang telah diambil dari sebuah hasil survey terpercaya. Kemudian hening.

Apakah rasa peduli terhadap sesama kini hanya berupa ingin diakui saja? Agar orang lain bisa melihat kalau kita adalah yang paling humanis diantara segala. Agar ini. Agar itu. Eh?!

Mama di rumah tugasnya bangun, nyiapin makanan, seterusnya cuma nunggu anak-anak sama Bapak pulang, yang ditunggu malah kemudian semuanya sibuk sama handphone masing-masing. Mama hidup sama siapa sih?! –EMAK

Dan kalimat barusan yang telah bertahun-tahun lamanya saya dengar baru saya sadari, alami, dan rasakan sekarang. Bagaimana jengkelnya diajak bertemu oleh beberapa orang di luar, tak pernah ada yang benar-benar being present di depan mata. Di rumahpun masih begitu. Saya bahkan masih jarang menemukan kehadiran Bapak, Adik, dan Kakak. Ungkapannya ya begitu, sama seperti yang dikatakan Ibu.

Phones are tools; we are at risk of trying to extend their limitations. It is a poor substitute for real interaction, presence, experience, and connecting.

Disconnect to connect.

We always tend to be late for everything.

Advertisements
Tagged , ,