Tag Archives: consciousness expansion

Pengisolasian Diri & Kedalaman Ruang Kontemplasi Tanpa Batas: Kehidupan Sebagai Seorang Spiritualis

Pagi ini saya terbangun dari tidur yang terjaga. Tidur yang meletakkan pusat perhatian hanya dalam merasakan nafas. Sebuah konsekuensi yang harus ditanggung ketika selesai mengonsumsi crmth.

Saya telah melanggar Dhamma, sila buddhis ke-lima. Saya telah memasukkan kembali racun ke dalam tubuh dan membiarkan pikiran bermain dengan pemikirannya. Sebuah permainan yang cukup membuat kehidupan manusia amat beragam warna dan tak kunjung usai pula membuat mereka terperangkap dalam permainan yang mereka ciptakan sendiri.

Entah apa yang saya cari kembali dalam menggabungkan narkose dan kedalaman kebenaran semesta. Sebagai seorang spiritualis, bisa jadi saya hanya mencari penderitaan itu. Bayangkan, ketika kamu mengonsumsi crmth , maka dalam jangka waktu satu sampai dua jam, hidup terasa semakin menyenangkan. Perasaan untuk bersyukur telah berkali-kali lipat jumlahnya. Kamu akan merasakan kebahagiaan itu, sensasi jangka pendek kasih sayang yang kamu berikan pada jiwa dan raga sendiri. Setelah itu? Tergantung kemana kamu membawa diri; Menjadi tuan atau budak pikiran akan menjadi amat sangat sulit dibedakan. Contohnya begini, bisa jadi dua menit pertama kamu akan terbawa afirmasi positif yang sengaja ditanamkan –atau malah sebenarnya hanya merupakan pelarian dari ketakutan terhadap keadaan– lalu menit berikutnya kamu kembali ke dalam kenegatifan yang semakin menjadi dari yang sebelumnya, dan jikalau saja kondisi kesadaran yang dimiliki sudah tinggi, kamu akan menemukan satu titik yang menjelaskan bahwa keduanya berasal dari sumber yang sama.

Kericuhan yang membabi buta (campur aduk segala bentuk rupa emosi) di dalam diri itulah satu-satunya kemungkinan yang membawa saya kembali ke dalam arena pertarungan alam bawah sadar. Segala kemudian saya telan bulat-bulat sendiri.

Hingga akhirnya mendarat di atas tempat tidur yang telah lama menemani tubuh, yang sering merasa kelelahan, menghadapi realita fana (ilusi) ini sepanjang waktu. Namun sayangnya, sejak kemarin malam ia menolak untuk menjadi seperti biasa. Ia enggan untuk beristirahat sepenuhnya. Saya berteriak sekencang-kencangnya pada segala penjuru di dalam hati: “TIDURLAH, TIDURLAH!” adalah dua kata yang tak kunjung usai untuk diserukan. Tiada jua yang bisa dilakukan. Semakin saya melawan, semakin ia memberi rasa penderitaan sejajar dengan kegelisahan dalam jumlah yang lebih lagi.

“Pilihannya cuma satu, menyerahlah terhadap keadaan,” bisik saya pada ego yang mengedepankan dirinya sendiri.

Setelah mengunci pintu kamar dan menyerah terhadap keadaan, saya kemudian masuk ke kedalaman ruang kontemplasi tanpa batas yang sengaja diciptakan; Menjadi observator pemikiran yang lalu lalang, melepas rasa rindu pada dua dalam satu kesatuan diri, mencari ujung-ujung kebenaran atau malah mengingatkan kebenaran itu berulang-ulang kali kembali.

Saya menangis. Rasa-rasanya saya ingin mencintai segala. Saya ingin mencintai anjing-anjing liar berkudis di tengah jalan, pada manusia-manusia yang paling jahat sekalipun, atau bahkan debu, juga keheningan dalam sepi yang seringkali mengganggu manusia. Ya, segala.

Kesepian itu mutlak. Mau kamu berdua dengan pasangan, atau anak-cucu.

Namun kesendirian dan kesunyian itu adalah hal yang sakral.

Kesepian (loneliness) tidak identik dengan kesunyian (solitude). Dalam kesunyian, manusia sesungguhnya menjadi dua, Aku dan Diriku. Arendt menyebut keadaan ini sebagai “dua dalam satu (two in one)”. Oleh karena itu, dalam kesunyian, manusia (Aku) masih mempunyai teman untuk berdialog, yaitu Diriku. Dialog pada “dua dalam satu” tidak kehilangan hubungan dengan dunia sesama, karena Diriku merupakan perwakilan dari dunia. Kesunyian dapat menjadi kesepian, jika Aku ditinggalkan oleh Diriku (Arendt, 1985:174).

Sampai detik ini. Sampai usia tak kunjung lelah menunggu senja, dan waktu yang dengan cepat ia berlalu, saya masih berdiam diri. Saya menghukum diri dengan mutih karena saya telah melanggar dhamma. Mutih itu adalah salah satu di antara banyak cara untuk menyerahkan seluruh diri pada yang maha kuasa. Saya ingin mematikan Aku dalam Diriku dan menjadi Kami. Lalu inilah yang mereka sebut sebagai cinta sejati. Cinta yang tak dikuasai oleh nafsu. Cinta yang begitu bening dan indah dengan kemurniannya. Cinta yang tak menginginkan sebuah keterikatan. Dan pada akhirnya yang tersisa hanyalah cinta, yang mencintai cinta.

Terima kasih, Luka.

Advertisements
Tagged , , , , ,