Tag Archives: altruisme

Sementara telinga yang ketiga, ada di dalam dada.

Selalu ada kata-kata yang terlalu manis untuk diucapkan. Ada pula kata-kata yang bisa membunuh jika kau memberinya makan. Namun dengan hati yang hangat, kata-kata itu pula akan membantumu untuk menyelimuti mereka, yang tak disertai dengan kesadaran, telah kedinginan di sepanjang kehidupan yang mereka punya.

Udara yang saya hirup pagi ini terasa berbeda. Setelah seperti biasa minum segelas air putih dan membakar rokok, saya kemudian turun ke bawah untuk membuat secangkir teh manis panas. Kalau hari-hari sebelumnya tidak bisa menjalani pagi tanpa secangkir kopi, mungkin musim kini telah berganti. Saya sedang ingin yang manis-manis. Hihi. Centil ya. Tapi memang begitulah yang saya ingin coba jalani. Ternyata hidup lebih manis dari apa yang indra perasa kita bisa rasakan.

Lalu suara-suara itu kembali berbisik memanggil lagi. Ia berbisik dengan amat pelan hingga hanya sekujur tubuh yang kemudian merinding mendengarnya. Sejujurnya saya tidak bisa menjelaskan bagaimana semua kata-kata itu telah berhasil membuat saya harus terus hidup dan berjuang.

Seperti yang Djenar Maesa Ayu pernah tuliskan dalam bukunya berjudul T(W)ITIT:

Nayla punya tiga telinga. Yang dua, ada di samping kanan dan kiri kepala seperti manusia pada umumnya. Sementara telinga yang ketiga, ada di dalam dada. Dari kedua telinga yang ada di samping kanan kiri kepalanya, Nayla bisa mendengar orang berkata-kata. Dari telinga yang ada di dalam dadanya. Nayla bisa mendengar hatinya berbicara.

 

Dalam hitungan detik saja tiba-tiba semesta ikut berbicara. Hujan lebat turun tanpa dapat diprediksi lebih dulu. Saya tertawa geli. Rasa-rasanya selama ini saya lebih sering berdialog dengan alam dibandingkan manusia. Karena manusia tak akan pernah mendapatkan konsep pemahaman yang saya bicarakan. Mereka pikir saya gila. Atau seringkali mereka pikir saya hanya pecundang yang berbicara omong kosong semata. Ikhlaskanlah, diri; diantara semua yang menyakitkan itu seringkali alam membuka kedua lengannya untuk memeluk saya, yang seringkali menangis di dalam hati, ketika mengingat semua hal itu.

Barangkali tanpa harus menikmati kesedihan yang berlarut-larut, saya lebih memilih untuk kembali mendengarkan panggilan dari suara-suara hati yang merupakan hal paling penting itu sendiri. Suara itu berbicara tentang kehidupan; Yang bagi kebanyakan orang lain mungkin tak akan menjadi sebermakna itu. Bahkan mungkin mereka akan terus menertawakan jika saya menyuarakan ini melalui media “lidah yang tak bertulang”. Jadi seperti biasanya, saya lebih suka menyuarakan ini semua melalui media tertulis.

Untuk apa hidup jika bukan tentang kasih sayang, berbagi makna, dan menurunkan ilmu? Sungguh saya tidak tahu lagi. Bahkan atas ketidaktahuan yang semena-mena itu, bisa saja saya akan menarik diri ini menjadi seorang yang ambisius terhadap uang dan pengakuan manusia terhadap apa yang saya miliki. Mau itu usaha, karir yang melejit, atau pengakuan nama. Namun itu semua tidak lagi begitu berarti di mata saya. Semua lebih tampak semu dan membuat saya lemas tak berdaya. Ketika uang dan pengakuan itu sendiri pada akhirnya yang menghancurkan kembali. Membuat saya lebih tidak bahagia dibandingkan hari ini. Mereka akan membawa saya tersesat pada hal-hal yang begitu tampak nyata di mata orang-orang dan menjadi ilusi paling membuat ngeri diri. Saya tak ingin menjadi buta. Saya ingin terbangun dengan memberi makan jiwa ini lebih banyak lagi.

Ini resiko yang akan kita ambil bersama, Brida. Dalam hidup setiap orang bisa mengambil satu dari dua sikap: membangun atau menanam.

 

Para pembangun mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun menyelesaikan pekerjaan mereka, tapi suatu hari, mereka menyelesaikan apa yang mereka lakukan. Kemudian mereka sadar bahwa mereka terkurung oleh tembok-tembok mereka sendiri. Hidup kehilangan maknanya ketika pembangunan berhenti.

 

Lalu ada pula mereka yang menanam. Mereka bertahan melewati banyak badai dan segala perubahan musim, dan mereka jarang bisa beristirahat. Tapi, tidak seperti bangunan, kebun tak pernah berhenti tumbuh. Dan selagi kebun itu membutuhkan perhatian penuh tukang kebun, kebun itu juga membuat hidup sang tukang kebun menjadi petualangan besar.

 

Para tukang kebun selalu mengenali satu sama lain, karena mereka tahu bahwa dalam sejarah tiap tumbuhan, Dunia ikut berkembang.

 

-Paulo Coelho

 

Pada erangan jiwa yang secara sembunyi-sembunyi di dalam cangkang daging label manusia itu, saya merasakan penderitaan yang sangat mendalam. Empati itu tak bisa ditolak.

Sekali lagi saya mendengar kembali suara itu. Suara yang akan saya terus ucapkan berulang-ulang di dalam hati. Suara yang akan membuat saya terus bertahan hidup; karena tugas itu belum selesai. Dan karena itu juga saya belum siap untuk mati.

Beberapa tahun kedepan kita akan bertemu di dalam sebuah ruang yang mereka beri nama kelas. Akan kugenggam kalian untuk tumbuh. Akan kuurus kalian sebagai anak-anakku sendiri. Atau mungkin juga akan kutemani kalian mengganja. Dan untuk segala waktu dan jerih payah ini, ia adalah milik kalian semua.

Semoga semesta memberi jalan terbaik untuk saya yang kedepannya akan berjanji setia melayani manusia dengan sepenuh hati.

13 Oktober 2014. 19:54.

Advertisements
Tagged ,