Pengisolasian Diri & Kedalaman Ruang Kontemplasi Tanpa Batas: Kehidupan Sebagai Seorang Spiritualis

Pagi ini saya terbangun dari tidur yang terjaga. Tidur yang meletakkan pusat perhatian hanya dalam merasakan nafas. Sebuah konsekuensi yang harus ditanggung ketika selesai mengonsumsi crmth.

Saya telah melanggar Dhamma, sila buddhis ke-lima. Saya telah memasukkan kembali racun ke dalam tubuh dan membiarkan pikiran bermain dengan pemikirannya. Sebuah permainan yang cukup membuat kehidupan manusia amat beragam warna dan tak kunjung usai pula membuat mereka terperangkap dalam permainan yang mereka ciptakan sendiri.

Entah apa yang saya cari kembali dalam menggabungkan narkose dan kedalaman kebenaran semesta. Sebagai seorang spiritualis, bisa jadi saya hanya mencari penderitaan itu. Bayangkan, ketika kamu mengonsumsi crmth , maka dalam jangka waktu satu sampai dua jam, hidup terasa semakin menyenangkan. Perasaan untuk bersyukur telah berkali-kali lipat jumlahnya. Kamu akan merasakan kebahagiaan itu, sensasi jangka pendek kasih sayang yang kamu berikan pada jiwa dan raga sendiri. Setelah itu? Tergantung kemana kamu membawa diri; Menjadi tuan atau budak pikiran akan menjadi amat sangat sulit dibedakan. Contohnya begini, bisa jadi dua menit pertama kamu akan terbawa afirmasi positif yang sengaja ditanamkan –atau malah sebenarnya hanya merupakan pelarian dari ketakutan terhadap keadaan– lalu menit berikutnya kamu kembali ke dalam kenegatifan yang semakin menjadi dari yang sebelumnya, dan jikalau saja kondisi kesadaran yang dimiliki sudah tinggi, kamu akan menemukan satu titik yang menjelaskan bahwa keduanya berasal dari sumber yang sama.

Kericuhan yang membabi buta (campur aduk segala bentuk rupa emosi) di dalam diri itulah satu-satunya kemungkinan yang membawa saya kembali ke dalam arena pertarungan alam bawah sadar. Segala kemudian saya telan bulat-bulat sendiri.

Hingga akhirnya mendarat di atas tempat tidur yang telah lama menemani tubuh, yang sering merasa kelelahan, menghadapi realita fana (ilusi) ini sepanjang waktu. Namun sayangnya, sejak kemarin malam ia menolak untuk menjadi seperti biasa. Ia enggan untuk beristirahat sepenuhnya. Saya berteriak sekencang-kencangnya pada segala penjuru di dalam hati: “TIDURLAH, TIDURLAH!” adalah dua kata yang tak kunjung usai untuk diserukan. Tiada jua yang bisa dilakukan. Semakin saya melawan, semakin ia memberi rasa penderitaan sejajar dengan kegelisahan dalam jumlah yang lebih lagi.

“Pilihannya cuma satu, menyerahlah terhadap keadaan,” bisik saya pada ego yang mengedepankan dirinya sendiri.

Setelah mengunci pintu kamar dan menyerah terhadap keadaan, saya kemudian masuk ke kedalaman ruang kontemplasi tanpa batas yang sengaja diciptakan; Menjadi observator pemikiran yang lalu lalang, melepas rasa rindu pada dua dalam satu kesatuan diri, mencari ujung-ujung kebenaran atau malah mengingatkan kebenaran itu berulang-ulang kali kembali.

Saya menangis. Rasa-rasanya saya ingin mencintai segala. Saya ingin mencintai anjing-anjing liar berkudis di tengah jalan, pada manusia-manusia yang paling jahat sekalipun, atau bahkan debu, juga keheningan dalam sepi yang seringkali mengganggu manusia. Ya, segala.

Kesepian itu mutlak. Mau kamu berdua dengan pasangan, atau anak-cucu.

Namun kesendirian dan kesunyian itu adalah hal yang sakral.

Kesepian (loneliness) tidak identik dengan kesunyian (solitude). Dalam kesunyian, manusia sesungguhnya menjadi dua, Aku dan Diriku. Arendt menyebut keadaan ini sebagai “dua dalam satu (two in one)”. Oleh karena itu, dalam kesunyian, manusia (Aku) masih mempunyai teman untuk berdialog, yaitu Diriku. Dialog pada “dua dalam satu” tidak kehilangan hubungan dengan dunia sesama, karena Diriku merupakan perwakilan dari dunia. Kesunyian dapat menjadi kesepian, jika Aku ditinggalkan oleh Diriku (Arendt, 1985:174).

Sampai detik ini. Sampai usia tak kunjung lelah menunggu senja, dan waktu yang dengan cepat ia berlalu, saya masih berdiam diri. Saya menghukum diri dengan mutih karena saya telah melanggar dhamma. Mutih itu adalah salah satu di antara banyak cara untuk menyerahkan seluruh diri pada yang maha kuasa. Saya ingin mematikan Aku dalam Diriku dan menjadi Kami. Lalu inilah yang mereka sebut sebagai cinta sejati. Cinta yang tak dikuasai oleh nafsu. Cinta yang begitu bening dan indah dengan kemurniannya. Cinta yang tak menginginkan sebuah keterikatan. Dan pada akhirnya yang tersisa hanyalah cinta, yang mencintai cinta.

Terima kasih, Luka.

Advertisements
Tagged , , , , ,

Implementasi Amorfati

Kilas balik sedikit kehidupan yang telah saya jalani sejak dua minggu lalu, rasa-rasanya kini saya bisa benar-benar focus on being daripada having; Setelah dua weekend sebelumnya sukses memberi makan jiwa dengan a blot of life .

Dan itu bukan hanya trip yang senang-senang saja seperti kebanyakan orang lainnya karena saya kerap kali memulai atau menengahi kegiatan blottering itu dengan meditasi 20 menit dan melanjutkannya dengan berenang di dalam air yang rasanya seperti diving in a pool full of stars.

Ini adalah visualisasi yang bisa kamu rasakan tentang bagaimana serunya perjalanan saya di hari Sabtu minggu pertama ditemani oleh kawan-kawan sepermainan yang paling setia walau tak pernah nyata di depan mata bernama Bjork, Velvet Underground, dan Mono of Japan.

IMG_0438.PNG

Menggelora sekali, ya! Saya yakin kamu akan sedikit merinding ingin mencoba setelah melihat sebuah inkarnasi pengalaman seperti ini.

Sebenarnya saya sudah lama tidak masuk lagi ke dalam gua semesta semenjak Love Garage 2014 tepatnya di Jakarta kemarin sambil berajojing ria dengan Phoenix dan syahdunya hujan di tengah konser.

Tapi saya tidak bisa bohong, walaupun sudah kembali ke rumah, ini tetap menjadi trip yang sungguh menyenangkan seperti biasanya. Di hari Sabtu minggu kedua, tepatnya dua hari sebelum hari ini, saya juga kembali dengan kebahagiaan yang akan sulit memudar seperti itu.

Kalau saja sebelumnya saya menikmati semuanya sendiri, di malam itu bersama tiga orang lainnya, kami telah memutuskan untuk mengadakan trip di tepi pantai. Perasaan gairah pada kehidupan yang didapatkan ketika dilakukan bersama-sama memiliki momen menyenangkan yang berbeda. Namun keduanya sama-sama tiada terbandingkan. Playlist yang saya sengaja pilih dan putar malam itu pun juga tak kalah membuat keadaan semakin membuat jiwa merasa nyaman karena telah diberi makan.

IMG_0771.JPG

IMG_0565.JPG

Portishead, MEW, Disclosure, Pink Floyd, dan Payung teduh serta John Lennon pun muncul ke permukaan sebagai penutup yang telah berhasil menggenggam kedamaian segerombolan anak muda yang menikmati hidup sampai ke dalam rahasia semesta (psst, walaupun saya yakjn mereka belum mengeruknya).

Hingga tinggi
Hingga melayang
Hingga terlena dan pasrah akan Samsara yang merasuki diri kami bersama.

IMG_0789.JPG

Saya tak pernah bosan dengan film dokumenter ini. Samsara sendiri memiliki definisi the cycle life and death. Dan sesuai dengan judulnya, film itu mencekik kehampaan yang terus membunuh ego-ego kami; sebagai yang tak tahu diri pada siapa yang hidup di dalam tubuh ini.

Ah, sudahlah. Rasa-rasanya saya tidak akan berhenti mengetik jika mengikuti imajinasi yang menggebu-gebu di dalam kepala.

Maka sekarang, dengan tersenyum geli melihat poster sebagai hadiah yang diberi dari hasil curian diskotik oleh seorang tetua ketika ia sedang tidak sadar, saya akan mengakhiri malam ini dengan Janis Joplin sampai tertidur lelap dengan mengucap banyak syukur pada keputusan untuk meng-amorfati-kan segala.

IMG_0791.JPG

 

Tagged , , , ,

The Art Of Being In Pain: Transcendental Tragedy (From Chaos To A Dancing Star)

cross the boundaries a paradox of choices (2012)

cross the boundaries // a paradox of choices (2012)

“You know why people cut? It’s a distraction. For one moment, you don’t feel all the pain, the loss, and the hurt. All you feel is that razor going into your skin, the blood dripping down your arm, leg, stomach. You don’t think about how alone you are or how ugly you are. You don’t think about the way people talk about you behind your back, the bullshits they spread behind you about you. Or about how broken your family is. All you think about is the blood.

And the addicting part? That’s when all the hurt and pain comes back; when the cut isn’t fresh and you can feel all the build up of sadness and loneliness inside you. So you have to do it again, but a little deeper so the numbness will last longer, the pain inside will be delayed longer. And as the pain inside gets worse and worse you have to make the pain outside worse and worse. It’s all about control. You have it.

If you can’t control the pain outside, some people may think that it’s so stupid, a weird thing to do for hurting yourself.

But those who have been in this situation would understand.

The situation when everything is screwed up, everyone seems on the opposite and blaming you for the things you didn’t do. And for the moment, those who know God might think that God doesn’t want them too.

We hurt ourselves to try to kill the pain inside because the physical pain really works cover the pain inside. You don’t know how it feels like to be completely hopeless and being hurt until you can’t cry or say anything. And you need something to distract it. You need something to make at least yourself forgets the pain, even just for awhile.

When I was younger, I could never truly imagine on why someone ever wanted to kill themselves. But what it’s like to have that feeling like you’re worthless, to feel like no one would really care if you just disappeared. I understand now that words hurt. I know what it’s like to be in that person’s shoes. You don’t have any idea how hard someone life’s. You can’t judge them by how they act in front of you. Some of your friends might smiling all day and cheering everyone else who’s blue, but maybe they have to cry themselves to sleep.”

-Andrea Naomi Y

I will tell you something about pain. I know you know if we know nothing more about it than a feeling. It hurts. It kills. It makes us to blame nothing but this reality as it is. No matter how much we try to shut it, we will never can.

a collection of visual body poetry (2012)

a collection of visual body poetry (2012)

I was there. I cut myself. I seek for help. I had cried to the outside of my inner world for years, wishing for someone to come and bring me to heaven. No one was there. I went to the professionals but couldn’t depend on them for a long time because I didn’t have enough money (90.000/hour not including the meds, 8 years ago) for God’s sake. I decided to take illegal drugs and whatsoever it is to repress the pain.

Yes, we drink too much alcohols, we put on our “I’m fine” masks everywhere we go, some do drugs and false religion of sexual behaviors, others go for a run, and everything that sounds metaphor. We did it because the society has told us to do it. We have been living in a miserable culture where feelings are not welcome and embarrassing. As the result, we repress our feelings. We cut off ourselves off of the healing process. We don’t have time for self-understanding. When that chance of the best thing in the world is closed, what is left to us is acting out of being bad, being depressed and addictive behavior of all kinds.

They called me crazy, attention whore, and loser. They tried as much as they can to avoid me. Those eyes and words that I would never forget until the rest of my life stay in mind. They are a part of me.

 

One thing I understand about pain. We can’t shut it. No matter how hard we try, we just can’t. We absolutely have no reason not to feel it, because we need it.

 

We need pain as much as we need love, hope, and oxygen. We need pain to know what is missing in our life. We need pain to realize no matter we want to be content, we would never be, because there is nothing in this reality could make us feel content. We need pain to learn that all of these physical things are nothing but an illusion. All of us are fana.

Furthermore, we need pain to survive, to find out an interesting fact with cognitive dissonances covered it on the surface; what is it lies inside our bodies. When we have known the truth of pain and the universe itself, thus we can focus on being: to become everything, to become immortal, and to keep on living.

And now, I could say that I’m much better than before. I washed my body at a hidden sacred place and have learned how to implement laughing therapy in Bali, took 10-day Vipassana meditation courses, and yes it works; the mad sounds inside my mind are gradually gone. I could even isolate myself for months in solitudeness. The pain, the chaos, and the darkest time have brought me to that “Good day sunshine” kind of life.

 

Eat good, drink water, rest well, and meditate.

I am inter Om.

Bhavattu Sabba Mangalam.

 

Tagged , , , ,

Antara Saya, Pernikahan, Orientasi Seksual, Dan Keturunan: Kehidupan Sebagai Seorang Eksistensialis

image

SAYA TIDAK AKAN MENIKAH. Lagi-lagi satu kalimat ini berdengung di dalam kepala. Satu kalimat tadi telah cukup lama tertanam dalam diri pribadi. Bukan karena saya mengantisipasi ketakutan akan ketidaklakuan saya di hadapan para lelaki. Tidak. Justru beberapa lelaki sudah cukup sering keluar-masuk ke kehidupan saya di masa lalu, jauh sebelum saya menanamkan prinsip hidup menolak pernikahan dalam kehidupan yang saya jalani saat ini. Bahkan sebenarnya ada juga seorang lelaki yang sudah menunggu enam tahun lamanya dan dengan amat menggebu-gebu selalu menunjukkan kegigihannya untuk menikahi saya. Meninggalkan dunia penarkosean, misalnya. Atau bekerja mati-matian agar saya bisa melihat usahanya yang akan membuat hidup saya nantinya sejahtera dan serba berkecukupan.

Ah, rasa-rasanya tidak. Segelintir orang-orang disekeliling saya bertanya apakah ini adalah sebuah bentuk trauma masa lalu, seperti contohnya keluarga sendiri? Jelas bukan. Karena sesungguhnya semua bentuk pernikahan memang tidak ada yang beres. Tidak ada yang benar-benar bahagia. Menikmati tontonan realita, saya bisa melihat dengan jelas kebanyakan dari pernikahan itu sendiri berakhir dengan perselingkuhan (manipulasi dan pengkhianatan), perkelahian yang berakibat kekerasan verbal (yang lebih menyakitkan dalam kondisi psikologis) dan fisik, bahkan perceraian. Yang paling harus diberi perhatian lebih adalah anak-anak, dimana mereka menjadi korban utama broken-home. Padahal anak-anak itu tidak bersalah dan tidak juga memiliki keinginan untuk dilahirkan ke dunia ini.

Kembali bercermin pada diri, sudah pasti jawabannya adalah saya tidak memiliki kemampuan untuk semua ini. Bahasa sederhananya: saya tidak mampu. Faktor utama adalah ketidaksetujuan dan penolakan secara mentah-mentah terhadap budaya patriarkal yang ada. Sebagai pemberontak ulung yang kadang juga kewalahan menghadapi diri sendiri, saya tidak yakin kalau saya bisa hidup di bawah lelaki. Untuk berada dalam peraturan-peraturan konyol itu, rasanya saya lebih baik hidup tanpa adanya perwujudan pernikahan di dalam hidup saya.

image

 

Saya teringat akan Ahmad Wahib, seorang budayawan pemikir pembaruan islam, mengatakan bahwa:

Bagiku dalam bekerja itu harus terjamin dan diperjuangkan dalam dua hal: 1. Penghasilan harus meningkat; 2. Pengalaman dan pengetahuan harus terus bertambah.

Dari sana saya menginterpretasikan bekerja itu adalah kehidupan. Makna bekerja yang saya tuliskan di sini memiliki makna yang lebih luas sebagai sebuah bentuk kehidupan. Katakanlah kalau menikah ini adalah sebuah pekerjaan bagi seorang perempuan seperti saya.

Kalaulah menikah, maka saya akan dihadapkan pada dua kemungkinan dalam penghasilan; penghasilan itu bertambah atau berkurang dan berakhir serba tidak berkecukupan untuk memenuhi apa yang saya butuhkan. Wah, bagus kalau saya menikah dengan lelaki yang “pintar” dan mapan, tapi lebih dari itu, pada saat yang bersamaan, ia juga merenggut kehidupan saya dan menimpalnya dengan sebuah kehidupan yang destruktif, dimana saya tidak bisa menambah pengalaman dan pengetahuan dengan cara saya yang konon kata mereka: semena-mena.

Ada juga yang dengan sembunyi-sembunyi (namun sayangnya terdengar) bahwa saya tidak akan menikah karena pilihan orientasi seksual yang cenderung mengarah pada sesama jenis: yang dilabeli mereka dengan kata lesbian. Untuk yang satu ini, saya tidak bisa bilang tidak sepenuhnya dan juga tidak bisa bilang iya sepenuhnya. Karena saya masih punya hasrat pada lelaki sebanyak hasrat saya pada perempuan. Lagian saya sendiri bukan tipe orang yang memilih mengendurkan saraf tegang di tubuh yang disebabkan oleh kecemasan-kecemasan gejolak hidup dengan melarikan diri pada kegiatan seksual, melainkan kedalaman pikiran dan kesendirian; ketika saya berada dalam sebuah dialog bersama seorang intelek, itu memberikan kepuasan yang jumlahnya lebih lagi di dalam diri, tanpa harus bersentuhan.

Saya lebih setuju dengan yang Ayu Utami, salah satu sastrawati Indonesia, katakan bahwa seks bagi saya adalah melakukan segala sesuatu yang mengakibatkan rangsangan pada organ seks. Sisanya cuma perkara teknik. Tidak dilebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan. Tanpa memasukkan kata gender di dalamnya, kedengarannya memang sangat PAS.

Emm.. Penampilan kamu..

Penampilan saya memang lebih sering terlihat maskulin, namun saya sendiri menyadari bahwa saya ini orang yang sentimental dan (masih) takut pada kecoa. Penampilan maskulin itu tadi juga saya gunakan untuk menutupi lemak-lemak yang berseliweran tidak tahu aturan disekujur tubuh saya dan demi alasan kenyamanan lain, seperti tidak ingin ribet dengan pemilihan pakaian misalnya. Atau ingin terlihat cantik dengan terus-terusan memakai make-up. Gunanya apa? Agar dilihat orang lain sebagai perempuan tulen yang cantik? Wah, bagi saya nilai estetika seorang perempuan bisa dilihat dari segi yang berbeda. Saya tertarik pada perempuan yang memiliki pola pikir cerdas dan berbeda dari mayoritas. Tanpa mengesampingkan lelaki, jumlah ketertarikan saya juga sangat banyak pada mereka yang memiliki ukuran pemikiran yang lebih besar daripada ukuran penisnya yang tidak seberapa itu.

Memangnya kamu tidak mau punya anak, maksudnya melahirkan anak dari rahim sendiri?

Ini tahun 2014, bukan 1924. Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak untuk memperjuangkan apa-apa saja yang menurut dari masing-masing mereka baik untuk dijalani. Tanpa harus merugikan pihak lain.

Ajaran Buddha Gautama telah memberikan prinsip fundamental baru bagi diri saya pribadi. Bahwa segala sesuatu yang terlahir di dunia ini berawal pada penderitaan dan sampai mati pun akan membawa penderitaannya sendiri. Ini adalah Dukkha. Dua hal lainnya, Anicca dan Anatta membantu untuk menjelaskan. Sesungguhnya tiada hal di dunia ini yang permanen, semua bersifat temporer (Anicca). Segala sesuatu yang berinkarnasi di atas bumi ini, tanpa adanya kesadaran atas anicca tadi adalah satu-satunya alasan yang mengakibatkan dukkha terjadi. Dan untuk mencapai satu titik pelepasan diri dari kedua hal yang lebih dulu saya terangkan, anatta hadir sebagai solusi atas segala pertanyaan. Pencapaian utama, tujuan hidup, kebahagiaan sejati; melepaskan peng-aku-an pada aku yang meng-aku (Anatta).

Untuk melepaskan “aku” di dalam diri saja sulitnya setengah mampus, jangan harap saya akan melahirkan darah daging yang nantinya tidak benar-benar bisa saya tuntun dan membiarkan kesayangan saya itu menderita karena ego yang saya miliki untuk memiliki keturunan. Jelas tidak. Kecuali jika saya telah mengalami pencerahan dan tercerahkan seperti arti dari kata Buddha itu sendiri. Tapi kebanyakan dari mereka yang menjalani jalan spiritual mematikan diri sebelum mati ini, untuk memiliki sedikit kehendak pun sudah tiada, sebab mereka telah terbebas dari “aku” yang ada di dalam diri sebelumnya. Mereka sudah tidak menjadi mereka lagi, melainkan sesuatu yang lebih daripada mereka sendiri.

Bagaimanapun, saya tidak akan memandang rendah satu individu dengan kehendak apapun yang mereka pilih. Mungkin saya akan memilih tidak suka, tapi di lain sisi saya juga akan terus mencoba memahami dengan cara menimbang sudut pandang tiga ratus enam puluh derajat pada masing-masing hal. Sinkretisme bersifat terbuka, ia tidak membenci. Semoga saja saya tidak akan menyerah terhadap keadaan ini. Sungguh semesta akan lebih tahu.

 

“Aku kira ada yang disebut cinta yang suci. Tapi itu cemar bila kawin. Aku pun telah pernah merasa jatuh simpati dengan orang-orang tertentu, dan aku yakin itu bukan nafsu.” -Soe Hok Gie

Tagged , , , ,

Aku Tak Mau Terikat, Agar Terus Dinamis

Soe Hok Gie

Aku kira pada akhirnya kita harus memilih, apakah kita mau menjadi pastor atau domine. Aku katakan pada dia bahwa aku tak ingin punya pacar dalam keadaanku sekarang, karena aku tak ingin membawa pacarku dalam kehidupan yang keras dan kejam. Dan aku tak mau terikat, agar aku bisa terus dinamis. Aku hanya mau pacaran kalau dia mau mengerti dengan keadaanku.

-Soe Hok Gie

Saya sejujurnya agak bingung dan menertawakan diam-diam mereka yang seperti mau mati kalau tidak pacaran. Seakan dunia kemudian runtuh dan kehidupan punah seketika.

Padahal, benar seperti apa yang Soe Hok Gie katakan, bahwa kalau saja terikat kita tidak akan bisa terus dinamis. Pasti ada tanggung jawab berlebih bukan tentang diri sendiri, namun apa saja yang menjadi pasangan dan mengikat diri ini untuk tak lekas jauh-jauh dari kata “Kalau sayang harusnya bla bla bla” dalam pikiran yang kemudian sebenarnya hanya mengedepankan ego sendiri. Jarang sekali bisa ditemukan pasangan yang bisa menerima keadaan masing-masing.

Kalau sendiri, kita bisa lebih maju. Bergerak terus tanpa halangan. Tanpa harus ada larangan ini itu, atau kebutuhan pihak kedua yang mendesak untuk harus ada.

Lah, terus kalau saja kamu sesak belaian?

Jawabannya adalah pilihan. Semua orang berhak memilih kehidupan yang dijalaninya dengan menimbang mana yang lebih banyak memberi ruang untuk terus berkembang.

Tagged , , ,

Living In Between Dream And Reality: Murakami’s Sputnik Sweetheart

“Why do people have to be this lonely? What’s the point of it all? Millions of people in this world, all of them yearning, looking to others to satisfy them, yet isolating themselves. Why? Was the earth put here just to nourish human loneliness?”

Sputnik Sweetheart

Sputnik Sweetheart adalah buku ke-empat Haruki Murakami yang saya baca setelah melalui 1Q84, Kafka On The Shore, dan After Dark. Entah bagaimana saya selalu jatuh cinta pada alur cerita yang Murakami bawa ke tengah dunia. Most of the stories are focused on unrequited love story, surreal, mystical, self discovery, and post modern of loneliness and isolation.

Di awal halaman buku, saya langsung diajak berkenalan dengan Sumire, seorang gadis remaja yang telah memilih keluar dari kampusnya agar memiliki waktu lebih banyak untuk menulis dengan sebuah mimpi menjadi seorang novelis. Percaya tidak percaya, saya secara tidak sengaja melihat cerminan diri saya pada Sumire karena kami berdua memiliki banyak persamaan.

Bagi Sumire, menulis adalah satu-satunya hal di dunia ini yang dapat mengerti dirinya. Dan dikarenakan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis, ia bahkan tidak pernah benar-benar merasakan jatuh cinta dalam hidup sampai pada suatu ketika ia bertemu dengan Miu, seorang perempuan yang berumur tujuh belas tahun lebih tua dari umur yang dimilikinya dalam sebuah acara pernikahan.

Disana jugalah seluruh perhatian saya mulai terpusat ketika K, sahabat satu-satunya Sumire ternyata juga memiliki perasaan yang sama kepadanya seperti apa yang dirasakan oleh diri Sumire pada Miu. Penyampaian rasa penderitaan dari sebuah cinta yang tidak terbalas ini menenggelamkan saya kembali pada pengalaman yang telah saya lalui dalam kenangan masa lalu. The pain of being there –just there, for another– knowing how much you love her or him while knowing full well that love cannot be reciprocated, but still choosing to linger and support the other.

Sumire yang belum juga mendapat kebenaran terhadap orientasi seksual yang ia punya kemudian semakin jatuh hati pada Miu, didorong pula oleh intensitas pertemuan mereka dalam mengadakan perjalanan bisnis bersama.

Keahlian Murakami menciptakan sebuah cerita yang menuturkan secara gamblang keberadaan dimensi lain lalu membawa plot cerita semakin memanas dan memanggil kembali rasa tegang saya yang sempat muncul di buku-buku lainnya. Melewati tengah malam, K mendapat panggilan telepon dari Miu yang sedang frustasi dan mengharapkan kehadirannya dengan segera dikarenakan Sumire secara tiba-tiba menghilang dalam liburan mereka berdua di Greek island setelah selesai mengadakan perjalanan bisnis yang cukup memakan waktu dan tenaga selama beberapa minggu sebelumnya. Ketika memainkan peran penting dalam mencari Sumire yang hilang, K menemukan sebuah floppy disk yang berisi, antara lain, sebuah pemikiran asing Sumire yang ia tuliskan tentang dunia mimpi dan sebuah rahasia yang kemudian K ketahui bagaimana rambut hitam Miu berubah sepenuhnya menjadi putih dalam satu malam di sebuah kota kecil Swiss.

Selang beberapa waktu setelah waktu yang ditentukan, K masih juga tidak tahu keberadaan Sumire. Sampai akhirnya ia diharuskan kembali lagi ke Jepang untuk meneruskan tanggung jawab kehidupannya sendiri dan kemudian memilih pasrah untuk menikmati rasa kehilangan itu, “All over again I understood how important, how irreplaceable Sumire was to me”.

Kelanjutan ceritanya bisa jadi membuat para pembaca sedikit bertanya-tanya atas jawaban dari segala misteri yang telah dilalui. Sedikit rasa sedih, cemas, takut, dan pusing kepala mungkin saja menjadi teman perjalanan yang tidak bisa diungkapkan ini. Saya sendiri selalu menyukai buku-buku yang dapat merenggut seluruh nafas secara mendalam, kehilangan kata-kata yang berputar dalam kepala ketika membacanya, atau bahkan yang mengaduk-aduk rasa emosional jiwa. Maka dari itu, saya tidak akan mampu rasanya untuk menolak jika ada yang menyodorkan buku-buku karangan Murakami.

No exception for Sputnik Sweetheart, to me, it was a very emotional book; the details of a hurting heart, and specifically how it describes the pain the characters were suffering. Murakami had sent us a kind of spinning –orbiting wildly– story. In doing so, he surely accomplishes the best. Most unnerving job of fiction; to force you to look hard at the parts of yourself you never even suspected were there.

Tagged , , ,

Platonic Love; A Love That Doesn’t Hurt

We have suffered for a long time to think about the end of a relationship as a failure. We blame ourselves, or our partners, or both. There comes a time when we finally recover from our miserable time, we search for a new partner afterwards; in hoping that this new relationship won’t fail us again or we won’t fail the relationship. The truth is the hope will be unfounded because we have no real understanding of what has been reached, and nothing would ensure the failure won’t repeat itself.

Plato stated that humans are constructed in three planes; Soma (body), Psiche (soul), and Nous (divine consciousness or spirit). These three dimensions –physical, psychological, and spiritual– are actually required for our journey in understanding true love.

Platonic Love

In its original state, our soul lived among the gods, enjoying the true being of eternal forms. As they become human beings, most souls forget their divine origin. In all three dimensions, humans naturally search for completeness and eternity, because as divine creatures, we would have an innate wish to return to our original state – the state of union with God. Aristophanes himself had explained to us that love is our search for our alter ego, a part of us that will make us whole again. Love is then, the force that moves human towards this original condition.

What most people don’t understand is that they cannot both hold the definition of love and expect human being to fulfill it. I’m sorry, my friend, we can only get more disappointed with it. What we need to understand first is the human construction based on what Plato had said that we, humans, always crave for the physical plane more than anything without realizing and considering other planes. We have known in physical plane, we search for the beautiful Forms (ideas in mind), but we often forget the other. I could say that in order to get the fully understanding of true love, we might not only focusing on it, because in a higher realm (psychological plane), we also have a natural tendency to search for the divine and should feel impelled towards virtuous people in order to give birth to moral virtues and spread the seeds of eternity by building projects and reaching objectives that will leave a trace of our existence. And in the highest of three dimensions which is spiritual plane, love appears as the most important thing that pushes everything back to unity (the original state).

Plato had taught us that love is desire for the perpetual possession of the good. Desire happens because we want to possess something good, something beauty. What is truly beautiful must be good and what is truly good must be beautiful. To the Greeks, beauty was a function of harmony; it arose from harmonious relationship between parts that couldn’t cohere unless they were good for one another. Thus Socrates modifies his earlier definition that to love beauty is to wish to bring forth in beauty. To possess it perpetually would be to re-create endlessly. Consequently, love must by its very nature be the love of immortality as well as the beautiful.

From this perspective, it’s easy to identify the reasons behind our unhappy relationships. True love as Plato defended, is when one finds another person whom he or she can manifest love in all three levels of existence and feel fulfilled in all three dimensions.

In my own understanding, platonic love doesn’t mean sexless love. Rather, it means love that is not only commanded by instincts, not governed to satisfy only the body, but a kind of love that also fulfills the spiritual needs, which is be the reason why most of our relationships ended the worst; we often forget that this kind of love transcends the boundaries of the material life.

Platonic Love itself occurs when one realized the beautiful of other person inspires the mind and the soul and it directs one’s attention to the higher things.

This is what matters most in this life; A love that transcends.

Tagged , ,

Are We Losing The Art Of Listening?

Most of us tend to listen on what we want to listen, not what the other person is trying to communicate with us. We don’t realize how great and beautiful thing that listening is. We forget it. We do not listen to our family, our friends; to those who you love or love you and least of all, which is so important, to those we do not love.

Are we losing the art of listening? No, we are not. We have not yet lost the art of listening. We just need one moment, one deep breath; one little reflection to get us reminded how great and beautiful it is to completely keeping up with it.

 

image

I usually do people-watching thing whenever I’m alone outside. I saw many good men go down into a slow decline of hopelessness. They are broken as their vision of a decent life was broken. I saw them walking aimlessly upon the streets, their eyes empty like shards of broken glass. I didn’t give voice to this kind of awareness, but the knowledge of common misery touched me and changed me in ways that were hidden deep from the public view. I listened to their broken sounds in silence. As it always, silence always penetrates me.

Remember, it is not enough to just listen to them.  One must really listen, with a deep, steady gaze, and sparkling eyes. I always keep reminding myself to listen with affection to anyone who talks to me, to be in their shoes when they talk, to try to know and understand them without any kind intention to judge, pressing against theirs, or arguing, even changing the subject. Only when we do this the magic begins.

These people, they actually need nothing from the external world but love. And listening is love. That is what it really is.  Unless you listen, you can’t know anybody. You might read facts and what is it in books, newspapers, articles on the internet, all of history, and anything you like, but one thing for sure, you will not know a single person. You will never understand what love is. You only can to understand what love is by the very first step of living which is giving. By the time you listen, you give them your time, your attention, your space, and perhaps, your life. And by loving others, you give the same amount of love to yourself too at the same time.

The loneliest people on earth are the ones who unable to listen. And the most serious problem of not listening is the worst thing that happens in human life, boredom; for it’s really the death of love. It isolates people off from each other more than any other thing.

Try to listen and feel the different beneath the surface of your skin. When you start to listen, you begin to hear not only their words; you may also feel the texture of the words, each word with joy and sorrow, and the breath behind the words; the emotional feelings and the story that are waiting to unfold.

Be fully present, be sensitive to what is being said because sometimes those you’re with don’t need you to say a word and the only response might be to just listen with affection, and yes, don’t forget to hold your tongue. Be fully alert and stay calm.

You might have no solitude, run to many errands, talk to many people, drink too many alcohols, but this little fountain is muddied over and covered with a lot of debris.

Try to listen to yourself too. The most sacred spaces I have are spent in moments of meditation, as I examine my soul with all of its imperfections.

Tagged ,

Stoner: The Greatest Novel You Have Never Read

“You must remember what you are and what you have chosen to become, and the significance of what you are doing. There are wars and defeats and victories of the human race that are not military and that are not recorded in the annals of history, Remember that while you’re trying to decide what to do.”

image

Stoner adalah salah satu buku yang dituliskan oleh John Williams pada tahun 1965 dan tidak menuai hasil yang baik di zamannya. It was respectably reviewed; it had a reasonable sale; it did not become a bestseller; it went out of print.

Seperti hidup yang selalu penuh dengan keajaiban, 48 tahun setelah dipublikasi untuk pertama kali dan 19 tahun setelah kematian sang penulis, Stoner berhasil mendapatkan tempat untuk duduk dalam peringkat bestsellerdi Eropa, and – the most remarkable of all – without the boost of any Nobel Prize or film adaptation. Vintage Publisher sendiri cukup tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Salah satu kemungkinannya datang dari kekuatan word-of-mouth para pembaca yang telah membantu Stoner menyentuh titik puncak kejayaan. It was Orwell who said once that the only real critic of literature is time. And, yes, it does matter.

Bercerita tentang seseorang yang memiliki nama persis dengan judul buku, Stoner memulai perjalan sebagai seorang anak petani yang miskin dimana ia kemudian diminta oleh sang ayah memasuki University of Missouri untuk belajar agrikultur dengan harapan agar ia dapat memiliki masa depan yang lebih cerah dalam mengelola lahan pertanian milik keluarganya sendiri. Seiring berjalannya waktu, Stoner memutuskan untuk pindah ke jurusan literatur. Disanalah setiap kata kemudian membawa saya ke dalam perjalanan yang penuh ironi dan penderitaan yang berkepanjangan; Ketika kehidupan yang sebenarnya telah dimulai.

Awalnya begitu banyak kejadian baik yang menyentuh hidup Stoner, tapi pada akhirnya semua berakhir dengan buruk. Ia telah memilih menjalani kehidupan sebagai seorang  dosen, jatuh cinta pada pandangan pertama dan menikah, namun dalam jangka waktu yang amat singkat ia menyadari bahwa pernikahannya adalah sebuah kegagalan. Ia mencintai anak perempuannya dengan perasaan yang begitu mendalam, tapi tak diberi kesempatan untuk sekadar duduk bersama tiap-tiap waktu di luar jam makan. Kehidupan Stoner begitu hening dan ia menjalaninya dengan tenang tanpa adanya sedikit perlawanan yang bergejolak seperti kebanyakan manusia pada umumnya. Pernah dalam satu waktu ia diberikan sebuah kehidupan baru dan secara tiba-tiba memperoleh sensasi kebahagiaan yang telah lama diimpikannya oleh seorang perempuan di luar pernikahan yang ia miliki, namun hubungan mereka berdua mendapat kecaman tajam dari campur tangan pihak luar. Dan saat berumur 42 tahun, Stoner menyadari sebuah kehampaan yang begitu kelam, “He could see nothing before him that he wished to enjoy and little behind him that he cared to remember”.

Walaupun dihadirkan dengan gambaran yang padat di bagian belakang sampul buku ini, saya justru semakin menjadi penasaran untuk menikmati perasaan campur-aduk yang hadir tiap kali saya diharuskan untuk membalik halaman demi halaman. Konflik yang ditawarkan oleh John Williams sangatlah nyata bila dilihat dari sudut pandang pembaca. Momen-momen kekalahan dan kemenangan manusia dalam menuliskan sejarah  kehidupan masing-masing – telah  berhasil direkam dengan kejujuran – mendobrak habis garis tipis antara cerita fiksi dan realita yang ada.

As a reader, you can see it coming in the way you can often see life’s sadness coming, knowing there is little you can do about it. But you should – indeed must – find out for yourself.

Tagged ,