Category Archives: Transcendental

Menjadi Terpelajar: Sebuah Perjalanan Panjang Cinta Menyusuri Makna Kemanusiaan

Tulisan ini teruntuk Nadira, seorang manusia, sahabat semesta, soul-mate, dan platonic love dalam kehidupan.

Dan tak lupa untuk para pembaca yang meluangkan waktunya.

 

All is love.

————————————–

Sudah beberapa bulan ke belakang saya berdiri di jalanan setapak untuk kemudian mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Baru sebentar saja, perjalanan ini telah membuka ruang kepala untuk menjadi lebih luas lagi; Menjadi lebih bijak dalam memahami. Bukan hanya ilmu itu sendiri, melainkan dunia dan manusia-manusia di dalamnya yang masih saja bersenang-senang untuk menjadi pemenang.

Beradu opini.

Beradu pikiran.

Beradu isi:

Untuk mengisi kekosongan yang hakiki.

Untuk menjadi besar dan jaya, tak perlu lagi panji Veni, Vidi, Vici. Tak usahlah kita datang ke dunia hanya untuk bercita-cita sebagai pemenang atas sesama. Menjadi yang paling unggul. Berkacak pinggang dan berdagu tinggi menantang hanya untuk menampakkan sebuah krisis harga diri dan krisis eksistensi, serta krisis-krisis lainnya yang membuat geli ranah kontemplasi introspeksi.

suffering

Menjadi terpelajar berarti berani jika suatu saat hipotesis kita terpatahkan: Bukankah perjalanan mencari kebenaran adalah dengan membuktikan bahwa hipotesis-hipotesis kita dalam melihat dan memahami dunia adalah salah? Mencari kebenaran bukan berarti mencari pembenaran. Tidak. Kita tak perlu tergesa-gesa menduduki posisi di barisan paling depan hanya untuk berteriak menolak kekalahan. Boleh jadi orang yang mengajari dan mengibarkan panji-panji adalah mereka yang belum pernah menang. Dan seringkali pada akhirnya, jatuh bersama idealisme itu sendiri menjadi pesakitan, hanya karena ingin membangun kejayaan dalam satu malam.

Menjadi terpelajar berarti belajar untuk menjadi manusia modern seperti yang dituliskan oleh Toer dalam Jejak Langkah. Mereka adalah yang maju di dalam zaman. Pada tangannya nasib umat manusia tergantung. Walaupun menjadi modern berarti serupa kesunyian manusia yatim-piatu, dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya. Karena barang siapa memerlukan pertolongan, dia tempatkan takluk tergantung-gantung pada orang lain. Manusia modern adalah mereka yang bebas: membebaskan semua dekorasi dari tubuh, juga dari pandangan. Sebab hanya kepentingan-kepentingan yang bakal mengikatkan diri pada sesuatu.

Menjadi terpelajar berarti mampu bertoleransi, mampu berpikir terbuka. Menerima sisi sebaliknya dari pendapat orang lain adalah sebuah pencapaian. Saya pernah tersenyum mewakili kebodohan diri sendiri ketika membaca kutipan yang ditemukan melalui postingan seseorang di sosial media:

In social issues class today our professor held up a black book and was like “this book is red” and we were all “no” and he said “yes it is” and we were just all “that’s not right” and he turned it around and the back cover was red and he said, “Don’t tell somebody they’re wrong until you’ve seen things from their point of view”

 

That speaks to me.

 

Penerimaan itu sendiri adalah sebuah pembuktian bahwa tak ada yang salah di dunia ini. Tidak untuk apa yang kita hidupkan pemantik api di dalamnya. Tidak untuk apa yang mereka junjung tinggi. Perlu disadari bahwa pola-pola sistem yang terstrukturisasi dan ditanamkan serta berakar dan bersarang dalam kebudayaan mayoritas enggan menganjurkan kita untuk menghargai perbedaan yang ada. Agaknya melihat mereka yang berbeda sebagai manusia adalah sebuah jalan –lagi-lagi membuat saya garuk-garuk kepala– pintas untuk menjadi pemenang. Demi menyelamatkan harga diri, manusia menginjak harga dari orang lainnya; Konteksnya jauh dari kualitas mereka yang diinjak, atribusi-atribusi sosial yang error dan mengandung bias-bias di dalamnya memporak-pondakan rasa hangat di dalam dada. Dimulai dari persepsi, hingga kemudian melahirkan bentuk diskriminasi-diskriminasi. Contohnya kecilnya kehidupan waria di Indonesia. Mereka yang menganggap orang-orang berbeda tersebut sebagai sekumpulan yang berkudis tanpa tahu harga kualitas para waria itu miliki, tak luput membuat senyuman tipis saya yang masih juga menemukan keberadaannya di atas wajah. Senyuman itu sendiri adalah sebuah pertanda bahwa saya masih harus belajar lebih banyak lagi dalam bertoleransi. Menerima dan memahami mereka yang tinggal dalam krisis-krisis diri.

Boleh jadi dualisme memang dibutuhkan di dunia ini. Atau memaklumi incommensurability, bahwa semuanya tak perlu lagi dibandingkan, biar masing-masing berjalan sendiri. Apa adanya, bukan apa maunya.

Saya kemudian teringat oleh tulisan yang dikagumi oleh soul-mate saya, Nadira, di ranah Antropologi dan telah dikirimkan olehnya tadi malam:

Incommensurability could be seen as a form of intellectual sterility — as the impossibility of breeding intellectually.

 

Saya masih belajar untuk benar-benar bisa mempraktikannya setiap waktu. Sebab menjadi terpelajar berarti tahu benar bahwa setiap teori (Grand Theory atau Middle-Range Theory) akan lebih berarti jika fungsinya dipakai di field-nya masing-masing, jangan dipaksakan untuk menjadi layak di ranah lainnya. Misalnya saja ajaran-ajaran agama (Nurture/Culture), ia tidak akan bisa masuk dan menjadi layak dalam ranah sains ekstrimis yang memerlukan pembuktian keberadaan seperti contoh kecilnya Quantum Physics (Nature). Dalam agama, hanya terdapat sebuah keyakinan: tak lain dan tak bukan. Dalam sains, hanya ada sebuah proses pembuktian-pembuktian. Yo, moso kamu mau memaksakan adanya Tuhan di dalam ranah Quantum Physics?? Lebih lucunya lagi, apabila spiritualis intelektual masuk ke antara dua hal tersebut. Spiritualis intelektual (peleburan Nature & Nurture) yang saya maksudkan di sini adalah mereka yang berkutat di luar agama namun mempelajarinya di saat bersamaan, namun bukan untuk menjadikan diri mereka bagian dari agama. Mereka pun juga belajar tentang kedalaman sains hanya untuk menyambung benang merah antara keyakinan dan sains dibalik ketiadaan yang nyata tersebut. Tambah ngaco, toh?

science-vs-religion

Di sini incommensurability bisa terjadi. Di mana setiap teori tak perlu ada sebuah bentuk pemuliaan intelektual antara satu dan lainnya. Sebab setiap teori berjalan sendiri-sendiri menurut fungsi dalam ranahnya. Dikotomi (Nature vs Nurture/Culture vs peleburan Nature vs Nurture/Culture) memiliki peran di ranahnya masing-masing. Lagi, di sinilah teori incommensurability memiliki peran yang paling bijak untuk kehidupan kemanusiaan di atas bumi ini.

“Menjadi terpelajar menurutku itu cukup bijaksana untuk tidak memaksakan kehendak kepada orang lain dan incommensurability adalah hal yang indah.” -N

Menjadi terpelajar memang harus sebisa mungkin memaksimalkan fungsi kognitif di dalamnya; menggunakan rasionalitas dan tidak mudah termakan emosi. Berkaca pada akar budaya pribumi zaman kampeni Belanda dalam mengambil hak tanah dan para petani yang kemudian kehilangan rasionalitas di dalam pikirannya sebab merasa terancam akan menghasilkan amok yang membabi buta. Atau peristiwa 211 di Jakarta beberapa waktu lalu (konspirasi atau bukan, namun dampaknya berpengaruh besar pada mereka yang belum menjadi terpelajar).

Barangkali memang benar, memahami mereka yang belum menjadi terpelajar adalah sebuah hal yang menjadi tantangan untuk memaksimalkan fungsi kognitif yang kita miliki.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.” –Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia)

Ketika sudah bisa menjadi adil dalam pikiran dengan menjadi berani jika perjalanan mencari kebenaran berarti menerima hipotesis kita terpatahkan, menanamkan sifat manusia modern untuk diri, mampu bertoleransi dan berpikir terbuka, serta memaksimalkan fungsi kognitif untuk menyentuh kedalaman, kita harusnya tak lupa untuk menanamkan usaha-usaha kemajuan peradaban sebagai perbuatan/prilaku.

Dalam ranah yang kita kuasai –ranah yang kita kerucutkan dan memiliki kedalaman– haruslah dapat memiliki daya guna dalam kemanusiaan. Bukan hanya sebuah pemuliaan intelektual yang mengikat sebagai kepentingan proses pemberian makanan untuk ego yang kita miliki sendiri dalam pembentukan kesan dan ke-superior-an yang menyembunyikan ke-inferior-an diri, melainkan penurunan ilmu yang memerlukan penyesuaian terhadap perkembangan zaman tersebut. Maka setelah dapat membuka ruang kontemplasi kembali atas apa yang telah saya rangkap menjadi sebuah tulisan, di sinilah menjadi terpelajar akan menemui makna sebagai sebuah peran untuk perjalanan panjang cinta terhadap peradaban kemanusiaan dari satu generasi ke generasi lainnya.

We talk it all out

with the sole purpose of being the righteous one.

We often forget that we haven’t made, at least, a real contribution to society itself.

 

And each glorious time we think we win,

we lose.

Tagged , , , , , , , , ,

Noise: Sebuah Perjalanan Menemukan Diri

Sound is the physical vibration which we feel and let inside our bodies.

Music is an order of sound vibrated in a certain way that pleases our brains and sometimes.

Noise is everything else in between.

Memilih datang untuk menambah pengalaman ke acara Jogja Noise Festival 2017 menjadi sebuah hal yang patut disyukuri pada akhirnya. Untuk orang seperti saya yang menjadi penikmat musik di manapun berada, kejanggalan dan kebisingan JNF yang diadakan di Yogyakarta adalah sebuah kemualan yang menjadi-jadi pada awalnya. Bisa terjadi di beberapa sesi entah karena frekuensi suara yang begitu tinggi atau isi kepala yang belum dapat menikmati. Seiring berjalannya waktu, setelah akal yang selalu merayu badan untuk pergi ke mana saja selain dari sana, perlahan dengan belajar menutup mata dan menerima segala noise yang berputar tanpa henti di setiap sesi, saya pun mulai menikmati remuk redam itu sendiri.

Beragam hal yang terjadi membawa saya kembali ke dalam kenangan pertunjukkan tarian Volution/Groove Space karya Sebastian Matthias yang ditampilkan dua tahun lalu di Salihara. Tidak hanya tari, karya ini juga menggabungkan antara kebisingan ruang perkotaan, tubuh, gerakan, dan irama. Mereka menari bukan di atas panggung, melainkan berbaur bersama penonton. Sungguh bukan sebuah acara yang monoton.

Dan kedua hal itu mengingatkan saya tentang sebuah kutipan dari sebuah novel Haruki Murakami yang berjudul Dance, Dance, Dance.

 

“You gotta dance. As long as the music plays. You gotta dance. Don’t even think why. Start to think, your feet stop. Your feet stop, we get stuck. We get stuck, you’re stuck. So don’t pay any mind, no matter how dumb. You gotta keep the step. You gotta limber up. You gotta loosen what you bolted down. We know you’re tired, tired and scared. Happens to everyone, ok? Just don’t let your feet stop.”

 

Noise adalah sebuah perjalanan menemukan diri. Spiritual yang berelegi.

Ada harmoni di sana.

Ada tenang di sana.

Ada ritme yang berkelana di balik kebisingan yang merajalela.

Sebuah nada antara kau dan aku yang melebur menjadi satu.

ANAPANASATI: BECAUSE MIND IS A WILD ANIMAL

Cobalah berhenti sejenak untuk bernafas agar menjadi lega. Lalu kamu akan tertawa. Sebab tetap saja setelahnya segala mulai mengerumuni kekosongan di dalam kepala. Ia menolak untuk membisu. Andai saja pikiran itu memudar, maka banyak orang akan merasa kehilangan arah. Mungkin mereka belum terbiasa atas hening yang memberi nikmat ketenangan.

Namun bukankah kita, manusia, adalah sesuatu yang tidak lebih dari ketiadaan? Tidak kali pertama saya tersentak oleh eksistensialisme, sebuah wujud kebenaran semesta, kalau saja masih ada yang selalu bertanya tentang tujuan hidup ini yang tak satu setanpun tahu seperti mengutip tulisan Soe Hok Gie sebelum kematiannya. Apalagi sebuah rasa yang datang dan menuai nyeri di dada ketika Gaspar Noe sendiri berucap “Living Is A Selfish Act” dalam filmnya yang berjudul Seul Contre Tous (I Stand Alone). Saya menonton film itu dua bulan lalu, dan yang dapat ditemui dalam film ini, tak lebih dan tak bukan, hanyalah suara dalam kepala lelaki tua yang penuh ironi dan menuai pembenaran terhadap keyakinan yang terus bertahan tanpa henti saat diterpa oleh badai realita.

schizophrenia

Lalu bagaimana dengan para penderita schizophrenia di luar sana? Bukan hanya itu, para penderita insomnia dan penyakit kejiwaan lain nyatanya memiliki masalah yang sama. There is no such thing more dangerous than the mad sounds in our minds. 

“My thought is me: that’s why I can’t stop. I exist because I think… and I can’t stop myself from thinking. At this very moment – it’s frightful – if I exist, it is because I am horrified at existing. I am the one who pulls myself from the nothingness to which I aspire.” – Jean-Paul Sartre

Meleburkan diri seutuhnya dalam Nausea yang dituliskan oleh Jean-Paul Sartre bisa jadi berupa satu pengalaman yang tidak pernah bisa dideskripsikan. Alih-alih melahirkan orok penolakan, muncullah Descartes, seorang filsuf perancis, dengan senggolan menukik tajamnya; Cogito Ergo Sum (Aku berpikir maka Aku ada), rasa-rasanya menjadi sebuah kebenaran mutlak. Tak pernah ada pikiran yang terlahir kecuali atas kehendak si pemikir sendiri. Tak pernah ada aku.

We all have struggled with a thing called mind games for too long.

Kalau saja tak acuh mencari cara untuk mengembalikan pikiran tadi terhadap kekosongan yang berisi dan isi yang berkekosongan menjadi satu-satunya pilihan, wajarlah jika banyak manusia terus berada dalam gejolak pikiran yang tak akan pernah ada habisnya.

Beberapa solusi yang telah saya temukan dan jalani, salah satunya adalah Anapanasati (Respiration Awareness).

Titik awal pencapaian dapat diperoleh dengan merasakan nafas itu sendiri. Sudikah kita kiranya sadar bahwa kebanyakan dari masing-masing yang memiliki kehidupan seringkali lupa bernafas? Kita seringkali lupa benar-benar merasakan bahwa nafas itu ada, selain setelahnya diikuti oleh kesadaran yang lebih besar, bahwa nafas itu sendiri adalah sebuah hal paling penting karena ia telah memberi makan Roh yang menggerakkan Daging ini sepanjang waktu.

Manusia telah lama luput atas kesadaran yang amat begitu mudah dan sederhana dibandingkan dengan kerumitan persoalan hidup yang mereka hadapi. Karena itu untuk bergumul dengan empati dalam diri tak pernah membuat saya lelah memberi kebaikan pada sesama.

It’s all in your mind. And I guess it’s true. Whether you like it or not, mind is a wild animal. Thus you got to tame your own mind for it is the only way to reach the crown of life.

Tagged , , , , ,