Keseimbangan

Jika kau adalah yin, maka aku wajib menjadi yang.

Jika kau serupa gaungan id dengan kedestruktifannya, aku lekas menjadi superego,
dan kita bercumbu di pusat
ego.

Jika kau lantas bersubmisif, akulah sang dominan penunjuk arah.

Jika kau menjelma logika, biar aku menjabat rasa.

Jika kau selaku gelap, aku mestilah sang terang.

Kita mesti “seimbang”, agar tak “goyang”.

Aturan untuk kutub-kutub magnet lantas berbunyi: Kutub-kutub senama akan tolak-menolak dan kutub-kutub tidak senama akan tarikmenarik.
Jika dua kutub utara saling didekatkan, kedua kutub tersebut akan tolak-menolak.
Demikian juga halnya jika dua kutub selatan saling didekatkan.

Lantaran yang telah dibangun,
sepatutnya dirawat dengan sungguh-sungguh.

Dengan secangkir kopi murahan yang masih dapat dinikmati dengan kesederhanaan, berdua menjaga nurani adalah tanggungjawab penuh,
agar jiwa enggan lagi berpeluh.

Tak boleh kita sama-sama menukik ke utara. Habislah segala. Muncullah berhala.
Tak boleh kita sama-sama turun ke selatan.
Hancurlah semua. Meraba-raba jalan yang ada.
Lalu kita menjadi tiada.

Asmara jangan biarkan lebur dalam api sengsara.
Tidak merasa cukupkah kita dengan yang sudah-sudah?
Cinta biarlah belajar tentang dirinya meski harus gagal berulang-ulang.

Sebab belajar mencintaimu telah menuntunku untuk “pulang”.

Advertisements
Tagged , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: