Noise: Sebuah Perjalanan Menemukan Diri

Sound is the physical vibration which we feel and let inside our bodies.

Music is an order of sound vibrated in a certain way that pleases our brains and sometimes.

Noise is everything else in between.

Memilih datang untuk menambah pengalaman ke acara Jogja Noise Festival 2017 menjadi sebuah hal yang patut disyukuri pada akhirnya. Untuk orang seperti saya yang menjadi penikmat musik di manapun berada, kejanggalan dan kebisingan JNF yang diadakan di Yogyakarta adalah sebuah kemualan yang menjadi-jadi pada awalnya. Bisa terjadi di beberapa sesi entah karena frekuensi suara yang begitu tinggi atau isi kepala yang belum dapat menikmati. Seiring berjalannya waktu, setelah akal yang selalu merayu badan untuk pergi ke mana saja selain dari sana, perlahan dengan belajar menutup mata dan menerima segala noise yang berputar tanpa henti di setiap sesi, saya pun mulai menikmati remuk redam itu sendiri.

Beragam hal yang terjadi membawa saya kembali ke dalam kenangan pertunjukkan tarian Volution/Groove Space karya Sebastian Matthias yang ditampilkan dua tahun lalu di Salihara. Tidak hanya tari, karya ini juga menggabungkan antara kebisingan ruang perkotaan, tubuh, gerakan, dan irama. Mereka menari bukan di atas panggung, melainkan berbaur bersama penonton. Sungguh bukan sebuah acara yang monoton.

Dan kedua hal itu mengingatkan saya tentang sebuah kutipan dari sebuah novel Haruki Murakami yang berjudul Dance, Dance, Dance.

 

“You gotta dance. As long as the music plays. You gotta dance. Don’t even think why. Start to think, your feet stop. Your feet stop, we get stuck. We get stuck, you’re stuck. So don’t pay any mind, no matter how dumb. You gotta keep the step. You gotta limber up. You gotta loosen what you bolted down. We know you’re tired, tired and scared. Happens to everyone, ok? Just don’t let your feet stop.”

 

Noise adalah sebuah perjalanan menemukan diri. Spiritual yang berelegi.

Ada harmoni di sana.

Ada tenang di sana.

Ada ritme yang berkelana di balik kebisingan yang merajalela.

Sebuah nada antara kau dan aku yang melebur menjadi satu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: