Antara Saya, Pernikahan, Orientasi Seksual, Dan Keturunan: Kehidupan Sebagai Seorang Eksistensialis

image

SAYA TIDAK AKAN MENIKAH. Lagi-lagi satu kalimat ini berdengung di dalam kepala. Satu kalimat tadi telah cukup lama tertanam dalam diri pribadi. Bukan karena saya mengantisipasi ketakutan akan ketidaklakuan saya di hadapan para lelaki. Tidak. Justru beberapa lelaki sudah cukup sering keluar-masuk ke kehidupan saya di masa lalu, jauh sebelum saya menanamkan prinsip hidup menolak pernikahan dalam kehidupan yang saya jalani saat ini. Bahkan sebenarnya ada juga seorang lelaki yang sudah menunggu enam tahun lamanya dan dengan amat menggebu-gebu selalu menunjukkan kegigihannya untuk menikahi saya. Meninggalkan dunia penarkosean, misalnya. Atau bekerja mati-matian agar saya bisa melihat usahanya yang akan membuat hidup saya nantinya sejahtera dan serba berkecukupan.

Ah, rasa-rasanya tidak. Segelintir orang-orang disekeliling saya bertanya apakah ini adalah sebuah bentuk trauma masa lalu, seperti contohnya keluarga sendiri? Jelas bukan. Karena sesungguhnya semua bentuk pernikahan memang tidak ada yang beres. Tidak ada yang benar-benar bahagia. Menikmati tontonan realita, saya bisa melihat dengan jelas kebanyakan dari pernikahan itu sendiri berakhir dengan perselingkuhan (manipulasi dan pengkhianatan), perkelahian yang berakibat kekerasan verbal (yang lebih menyakitkan dalam kondisi psikologis) dan fisik, bahkan perceraian. Yang paling harus diberi perhatian lebih adalah anak-anak, dimana mereka menjadi korban utama broken-home. Padahal anak-anak itu tidak bersalah dan tidak juga memiliki keinginan untuk dilahirkan ke dunia ini.

Kembali bercermin pada diri, sudah pasti jawabannya adalah saya tidak memiliki kemampuan untuk semua ini. Bahasa sederhananya: saya tidak mampu. Faktor utama adalah ketidaksetujuan dan penolakan secara mentah-mentah terhadap budaya patriarkal yang ada. Sebagai pemberontak ulung yang kadang juga kewalahan menghadapi diri sendiri, saya tidak yakin kalau saya bisa hidup di bawah lelaki. Untuk berada dalam peraturan-peraturan konyol itu, rasanya saya lebih baik hidup tanpa adanya perwujudan pernikahan di dalam hidup saya.

image

 

Saya teringat akan Ahmad Wahib, seorang budayawan pemikir pembaruan islam, mengatakan bahwa:

Bagiku dalam bekerja itu harus terjamin dan diperjuangkan dalam dua hal: 1. Penghasilan harus meningkat; 2. Pengalaman dan pengetahuan harus terus bertambah.

Dari sana saya menginterpretasikan bekerja itu adalah kehidupan. Makna bekerja yang saya tuliskan di sini memiliki makna yang lebih luas sebagai sebuah bentuk kehidupan. Katakanlah kalau menikah ini adalah sebuah pekerjaan bagi seorang perempuan seperti saya.

Kalaulah menikah, maka saya akan dihadapkan pada dua kemungkinan dalam penghasilan; penghasilan itu bertambah atau berkurang dan berakhir serba tidak berkecukupan untuk memenuhi apa yang saya butuhkan. Wah, bagus kalau saya menikah dengan lelaki yang “pintar” dan mapan, tapi lebih dari itu, pada saat yang bersamaan, ia juga merenggut kehidupan saya dan menimpalnya dengan sebuah kehidupan yang destruktif, dimana saya tidak bisa menambah pengalaman dan pengetahuan dengan cara saya yang konon kata mereka: semena-mena.

Ada juga yang dengan sembunyi-sembunyi (namun sayangnya terdengar) bahwa saya tidak akan menikah karena pilihan orientasi seksual yang cenderung mengarah pada sesama jenis: yang dilabeli mereka dengan kata lesbian. Untuk yang satu ini, saya tidak bisa bilang tidak sepenuhnya dan juga tidak bisa bilang iya sepenuhnya. Karena saya masih punya hasrat pada lelaki sebanyak hasrat saya pada perempuan. Lagian saya sendiri bukan tipe orang yang memilih mengendurkan saraf tegang di tubuh yang disebabkan oleh kecemasan-kecemasan gejolak hidup dengan melarikan diri pada kegiatan seksual, melainkan kedalaman pikiran dan kesendirian; ketika saya berada dalam sebuah dialog bersama seorang intelek, itu memberikan kepuasan yang jumlahnya lebih lagi di dalam diri, tanpa harus bersentuhan.

Saya lebih setuju dengan yang Ayu Utami, salah satu sastrawati Indonesia, katakan bahwa seks bagi saya adalah melakukan segala sesuatu yang mengakibatkan rangsangan pada organ seks. Sisanya cuma perkara teknik. Tidak dilebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan. Tanpa memasukkan kata gender di dalamnya, kedengarannya memang sangat PAS.

Emm.. Penampilan kamu..

Penampilan saya memang lebih sering terlihat maskulin, namun saya sendiri menyadari bahwa saya ini orang yang sentimental dan (masih) takut pada kecoa. Penampilan maskulin itu tadi juga saya gunakan untuk menutupi lemak-lemak yang berseliweran tidak tahu aturan disekujur tubuh saya dan demi alasan kenyamanan lain, seperti tidak ingin ribet dengan pemilihan pakaian misalnya. Atau ingin terlihat cantik dengan terus-terusan memakai make-up. Gunanya apa? Agar dilihat orang lain sebagai perempuan tulen yang cantik? Wah, bagi saya nilai estetika seorang perempuan bisa dilihat dari segi yang berbeda. Saya tertarik pada perempuan yang memiliki pola pikir cerdas dan berbeda dari mayoritas. Tanpa mengesampingkan lelaki, jumlah ketertarikan saya juga sangat banyak pada mereka yang memiliki ukuran pemikiran yang lebih besar daripada ukuran penisnya yang tidak seberapa itu.

Memangnya kamu tidak mau punya anak, maksudnya melahirkan anak dari rahim sendiri?

Ini tahun 2014, bukan 1924. Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak untuk memperjuangkan apa-apa saja yang menurut dari masing-masing mereka baik untuk dijalani. Tanpa harus merugikan pihak lain.

Ajaran Buddha Gautama telah memberikan prinsip fundamental baru bagi diri saya pribadi. Bahwa segala sesuatu yang terlahir di dunia ini berawal pada penderitaan dan sampai mati pun akan membawa penderitaannya sendiri. Ini adalah Dukkha. Dua hal lainnya, Anicca dan Anatta membantu untuk menjelaskan. Sesungguhnya tiada hal di dunia ini yang permanen, semua bersifat temporer (Anicca). Segala sesuatu yang berinkarnasi di atas bumi ini, tanpa adanya kesadaran atas anicca tadi adalah satu-satunya alasan yang mengakibatkan dukkha terjadi. Dan untuk mencapai satu titik pelepasan diri dari kedua hal yang lebih dulu saya terangkan, anatta hadir sebagai solusi atas segala pertanyaan. Pencapaian utama, tujuan hidup, kebahagiaan sejati; melepaskan peng-aku-an pada aku yang meng-aku (Anatta).

Untuk melepaskan “aku” di dalam diri saja sulitnya setengah mampus, jangan harap saya akan melahirkan darah daging yang nantinya tidak benar-benar bisa saya tuntun dan membiarkan kesayangan saya itu menderita karena ego yang saya miliki untuk memiliki keturunan. Jelas tidak. Kecuali jika saya telah mengalami pencerahan dan tercerahkan seperti arti dari kata Buddha itu sendiri. Tapi kebanyakan dari mereka yang menjalani jalan spiritual mematikan diri sebelum mati ini, untuk memiliki sedikit kehendak pun sudah tiada, sebab mereka telah terbebas dari “aku” yang ada di dalam diri sebelumnya. Mereka sudah tidak menjadi mereka lagi, melainkan sesuatu yang lebih daripada mereka sendiri.

Bagaimanapun, saya tidak akan memandang rendah satu individu dengan kehendak apapun yang mereka pilih. Mungkin saya akan memilih tidak suka, tapi di lain sisi saya juga akan terus mencoba memahami dengan cara menimbang sudut pandang tiga ratus enam puluh derajat pada masing-masing hal. Sinkretisme bersifat terbuka, ia tidak membenci. Semoga saja saya tidak akan menyerah terhadap keadaan ini. Sungguh semesta akan lebih tahu.

 

“Aku kira ada yang disebut cinta yang suci. Tapi itu cemar bila kawin. Aku pun telah pernah merasa jatuh simpati dengan orang-orang tertentu, dan aku yakin itu bukan nafsu.” -Soe Hok Gie

Advertisements
Tagged , , , ,

3 thoughts on “Antara Saya, Pernikahan, Orientasi Seksual, Dan Keturunan: Kehidupan Sebagai Seorang Eksistensialis

  1. hey oya. I kind of agree with this article you write 🙂
    hard to admit but sometimes I feel this too, but no one seems understand. they instead judge before I even could explain. So between the pressures I feel right now, between the love and interest I have, gw agak pusing. haha.

    Wish you luck and love.

    Like

  2. adlyanalv says:

    Aihhh matekk oyaa, its amazing article yah,
    everyone have a free to choosess of life, marrige o not. So, up to us!!

    “Come back to jakarta soon”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: