Living In Between Dream And Reality: Murakami’s Sputnik Sweetheart

“Why do people have to be this lonely? What’s the point of it all? Millions of people in this world, all of them yearning, looking to others to satisfy them, yet isolating themselves. Why? Was the earth put here just to nourish human loneliness?”

Sputnik Sweetheart

Sputnik Sweetheart adalah buku ke-empat Haruki Murakami yang saya baca setelah melalui 1Q84, Kafka On The Shore, dan After Dark. Entah bagaimana saya selalu jatuh cinta pada alur cerita yang Murakami bawa ke tengah dunia. Most of the stories are focused on unrequited love story, surreal, mystical, self discovery, and post modern of loneliness and isolation.

Di awal halaman buku, saya langsung diajak berkenalan dengan Sumire, seorang gadis remaja yang telah memilih keluar dari kampusnya agar memiliki waktu lebih banyak untuk menulis dengan sebuah mimpi menjadi seorang novelis. Percaya tidak percaya, saya secara tidak sengaja melihat cerminan diri saya pada Sumire karena kami berdua memiliki banyak persamaan.

Bagi Sumire, menulis adalah satu-satunya hal di dunia ini yang dapat mengerti dirinya. Dan dikarenakan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis, ia bahkan tidak pernah benar-benar merasakan jatuh cinta dalam hidup sampai pada suatu ketika ia bertemu dengan Miu, seorang perempuan yang berumur tujuh belas tahun lebih tua dari umur yang dimilikinya dalam sebuah acara pernikahan.

Disana jugalah seluruh perhatian saya mulai terpusat ketika K, sahabat satu-satunya Sumire ternyata juga memiliki perasaan yang sama kepadanya seperti apa yang dirasakan oleh diri Sumire pada Miu. Penyampaian rasa penderitaan dari sebuah cinta yang tidak terbalas ini menenggelamkan saya kembali pada pengalaman yang telah saya lalui dalam kenangan masa lalu. The pain of being there –just there, for another– knowing how much you love her or him while knowing full well that love cannot be reciprocated, but still choosing to linger and support the other.

Sumire yang belum juga mendapat kebenaran terhadap orientasi seksual yang ia punya kemudian semakin jatuh hati pada Miu, didorong pula oleh intensitas pertemuan mereka dalam mengadakan perjalanan bisnis bersama.

Keahlian Murakami menciptakan sebuah cerita yang menuturkan secara gamblang keberadaan dimensi lain lalu membawa plot cerita semakin memanas dan memanggil kembali rasa tegang saya yang sempat muncul di buku-buku lainnya. Melewati tengah malam, K mendapat panggilan telepon dari Miu yang sedang frustasi dan mengharapkan kehadirannya dengan segera dikarenakan Sumire secara tiba-tiba menghilang dalam liburan mereka berdua di Greek island setelah selesai mengadakan perjalanan bisnis yang cukup memakan waktu dan tenaga selama beberapa minggu sebelumnya. Ketika memainkan peran penting dalam mencari Sumire yang hilang, K menemukan sebuah floppy disk yang berisi, antara lain, sebuah pemikiran asing Sumire yang ia tuliskan tentang dunia mimpi dan sebuah rahasia yang kemudian K ketahui bagaimana rambut hitam Miu berubah sepenuhnya menjadi putih dalam satu malam di sebuah kota kecil Swiss.

Selang beberapa waktu setelah waktu yang ditentukan, K masih juga tidak tahu keberadaan Sumire. Sampai akhirnya ia diharuskan kembali lagi ke Jepang untuk meneruskan tanggung jawab kehidupannya sendiri dan kemudian memilih pasrah untuk menikmati rasa kehilangan itu, “All over again I understood how important, how irreplaceable Sumire was to me”.

Kelanjutan ceritanya bisa jadi membuat para pembaca sedikit bertanya-tanya atas jawaban dari segala misteri yang telah dilalui. Sedikit rasa sedih, cemas, takut, dan pusing kepala mungkin saja menjadi teman perjalanan yang tidak bisa diungkapkan ini. Saya sendiri selalu menyukai buku-buku yang dapat merenggut seluruh nafas secara mendalam, kehilangan kata-kata yang berputar dalam kepala ketika membacanya, atau bahkan yang mengaduk-aduk rasa emosional jiwa. Maka dari itu, saya tidak akan mampu rasanya untuk menolak jika ada yang menyodorkan buku-buku karangan Murakami.

No exception for Sputnik Sweetheart, to me, it was a very emotional book; the details of a hurting heart, and specifically how it describes the pain the characters were suffering. Murakami had sent us a kind of spinning –orbiting wildly– story. In doing so, he surely accomplishes the best. Most unnerving job of fiction; to force you to look hard at the parts of yourself you never even suspected were there.

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: