Semestaku pepat oleh ketiadaan

Tulisan ini teruntuk kepada seorang puan penjalin rasa hangat di dalam dada bernama Kinanti. Semoga kelabumu segera berganti.

Terima kasih telah membawa kembali pulang. 


 

Semestaku pepat oleh ketiadaan. (@thalitafred, Tinder profile desc, 2017)

Saya terperangah membaca keanggunan kalimat di atas. Namun sebab kalimatnya masih terasa kurang lengkap, maka manusia seringkali masih menjalani kehidupan dengan gagap. Di sini saya mencoba lebih jauh mengungkap.

Teringat ketika mendatangi Lawangwangi Art Space di Bandung, ada sebuah karya seni yang saya-lupa-entah-siapa menggarapnya, berjudul, ia ada dalam ketiadaannya. Dengan ini, yang tadinya kurang lengkap maka kini makna secara keseluruhan dapat diserap.

Jpeg

 

Semestaku pepat oleh ia yang ada dalam ketiadaannya.

Kita tahu bahwa semesta hanyalah kumpulan atom yang membentuk molekul-molekul. Namun, pengetahuan harusnya didalami tanpa batas. Ditebas hingga tuntas. Habislah segala.

Atom berisi sub partikel neutron dan proton; Bayangkan sebuah biji kacang hijau kecil di tengah lapangan bola. Itulah mereka yang dikelilingi oleh cahaya elektron. Atom yang membentuk molekul, kemudian membentuk sel, lalu materi yang bisa ditangkap oleh panca indera. Namun, karena keterbatasan indera tersebut, kita melihat seolah-olah segala adalah padat. Padahal yang terjadi hanyalah benturan dan gesekan elektron itu. Secara hakiki, segala yang pada semesta adalah benda yang semu tanpa kepadatan sama sekali.

Selagi saling menggengam tangan dan memeluk, tak pernahkah terpikir bahwa kita jua satu yang banyak itu? 

Inilah yang disebut Quantum Theory.

Fana. Anatta. Nihil. Suwung. Sunyata. 

Berbeda bahasa, sama makna.

Jadi, sebutir atom tadi sama sekali tidak terdapat kepadatan melainkan getaran energi frekuensi atau gelombang energi yang berputar. Atom yang terdiri dari sub partikel (proton, elektron, dan neutron) tadi terdiri lagi dari quantum, quarks, leptons, dan positron. Merekalah yang merupakan seluruh materi dalam alam semesta. Materi, energi dan gelombang memiliki hubungan yang tidak terpisahkan, karena masing-masing keberadaannya dipengaruhi oleh yang lainnya. Energi memiliki sifat partikel (materi) dan materi memiliki sifat gelombang.

Dalam model atom, maka ruang kosong akan dijaga oleh electron. Sehingga ruang tersebut tetap menunjukkan karakteristik materi tersebut. Seperti ini keadaan ruang dan waktu. Keadaan ruang dan waktu akan senantiasa berada didalam energi ikat, yang dinamakan energi kesadaran. Consciousness.

kashmir-shaivism1

“And to Allah belongs the east and the west. So wherever you [might] turn, there is the Face of Allah.” – AlBaqarah115

Tersontak saya terus ingin terus berjalan dalam perjalanan berkenalan dengan apa yang mereka elu-elukan. Dengar teriak bahwa mereka mencintai tuhannya. Menggebu-gebu sekiranya dapat dijelaskan. Sembari geleng-geleng kepala yang menuai senyuman garis bibir tipis muncul ke permukaan, pertanyaan saya masih tentang persoalan yang sama.

“Lah, katanya cinta. Sudah kenalan belum sama gusti? Sudah PDKT?”

Tersembur dalam kepala karena merasa lelah. Terlalu banyak iman pemakan dogma yang meresahkan keamanan orang-orang sekitar. PDKT sama gusti enggak gampang. Bukan guyonan.

Iqra.

Konon katanya ini wahyu pertama yang diturunkan oleh semesta pada Muhammad ketika bersemedi di gua Hira. Tak hanya tulisan di atas kertas, segala yang ada dan terbentang di semesta pun bacalah. 

Semedi. Samadhi. Meditasi. Berdiam diri.

Beda bahasa, sama makna.

 

Dalam menunaikan PDKT dengan cara ingin tahu siapa gusti, perjalanan menuju pengetahuan atau pemahaman terdalam tentang sifat realitas sangatlah perlu.

Olah rasa. Olah nafas. Vipassana. Tassawuf.

Beda bahasa, sama makna.

Demi Moksa. Nirwana. Surga. Enlightenment.

Kebebasan yang sebenar-benarnya.

Penerimaan atas penderitaan dan mentransformasikannya ke arah yang lebih tinggi. Sebab itu kita harus belajar hening. Belajar untuk diam dan tidak melakukan apa-apa. Menerima. Dan terus merasakan getaran gelombang energi tadi. Agar cintanya sarat makna. Lebur, biar tak lagi terus tersungkur karena yang tersisa hanya mengucap syukur.

Seperti metamorfosa Ubermensch dalam Thus Spoke Zarathustra –The Child:

 

“But say, my brothers, what can the child do that even the lion could not do? Why must the preying lion still become a child? The child is innocence and forgetting, a new beginning, a game, a self-propelled wheel, a first movement, a sacred “Yes.” For the game of creation, my brothers, a sacred “Yes” is needed: the spirit now wills his own will, and he who had been lost to the world now conquers his own world.”

 

Bagi Nietzsche, segala ciptaan muncul dari keadaan permainan ini. Bila seseorang dapat mencapai pikiran anak-anak, maka dunianya akan dipenuhi keajaiban dan kegembiraan. Seseorang tersebut dapat menghendaki kehendaknya sendiri, menciptakan kebajikannya sendiri, dan dengan demikian menciptakan realitasnya sendiri. Dalam menjalani metamorphosis akhir ini, roh menguasai dirinya sendiri, menaklukkan dunianya, dan mencapai keadaan ubermensch. Moksa. Nirwana. Surga. Buddha. Pembebasan.

 

Bahkan dalam secangkir hangat kopi hitam pekat di depanku ada kau. Ada aku.

Kita benar ada dalam ketiadaan.

Kosong adalah isi. Isi adalah kosong.

Cinta yang mencintai cinta.

Manunggaling kawula gusti.

 

Advertisements
Tagged , , , , , , , , , ,

Tabula Rasa

Processed with VSCO with 3 preset

 

di atas seprai putih, pula malam merebah lelah kuasa

kau dan aku mengabdi pada tabula rasa

 

menindih elegi dengan kecup bibir berapatis

dan geming yang bercengkerama

melupa amarah berbalik tanya

kapan kita pernah reda?

sebab tatkala tumbuh hendak memulai

hanya ada aku padamu

sedang kau patah dahan asa hingga terkulai

 

siapa paling tahu dalam senyap?

jawab!

 

mungkin aku hanya seonggok sia

dipungut kala kau menjadi segala nyeri

hingga senja usai kembali mendepak

aku sisa teriak

 

di atas seprai putih, kini malam kian mesra

aku sepi menjalin angkara

melebur esa

mereda nestapa

 

moksa.

 

Menjadi Terpelajar: Sebuah Perjalanan Panjang Cinta Menyusuri Makna Kemanusiaan

Tulisan ini teruntuk Nadira, seorang manusia, sahabat semesta, soul-mate, dan platonic love dalam kehidupan.

Dan tak lupa untuk para pembaca yang meluangkan waktunya.

 

All is love.

————————————–

Sudah beberapa bulan ke belakang saya berdiri di jalanan setapak untuk kemudian mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Baru sebentar saja, perjalanan ini telah membuka ruang kepala untuk menjadi lebih luas lagi; Menjadi lebih bijak dalam memahami. Bukan hanya ilmu itu sendiri, melainkan dunia dan manusia-manusia di dalamnya yang masih saja bersenang-senang untuk menjadi pemenang.

Beradu opini.

Beradu pikiran.

Beradu isi:

Untuk mengisi kekosongan yang hakiki.

Untuk menjadi besar dan jaya, tak perlu lagi panji Veni, Vidi, Vici. Tak usahlah kita datang ke dunia hanya untuk bercita-cita sebagai pemenang atas sesama. Menjadi yang paling unggul. Berkacak pinggang dan berdagu tinggi menantang hanya untuk menampakkan sebuah krisis harga diri dan krisis eksistensi, serta krisis-krisis lainnya yang membuat geli ranah kontemplasi introspeksi.

suffering

Menjadi terpelajar berarti berani jika suatu saat hipotesis kita terpatahkan: Bukankah perjalanan mencari kebenaran adalah dengan membuktikan bahwa hipotesis-hipotesis kita dalam melihat dan memahami dunia adalah salah? Mencari kebenaran bukan berarti mencari pembenaran. Tidak. Kita tak perlu tergesa-gesa menduduki posisi di barisan paling depan hanya untuk berteriak menolak kekalahan. Boleh jadi orang yang mengajari dan mengibarkan panji-panji adalah mereka yang belum pernah menang. Dan seringkali pada akhirnya, jatuh bersama idealisme itu sendiri menjadi pesakitan, hanya karena ingin membangun kejayaan dalam satu malam.

Menjadi terpelajar berarti belajar untuk menjadi manusia modern seperti yang dituliskan oleh Toer dalam Jejak Langkah. Mereka adalah yang maju di dalam zaman. Pada tangannya nasib umat manusia tergantung. Walaupun menjadi modern berarti serupa kesunyian manusia yatim-piatu, dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya. Karena barang siapa memerlukan pertolongan, dia tempatkan takluk tergantung-gantung pada orang lain. Manusia modern adalah mereka yang bebas: membebaskan semua dekorasi dari tubuh, juga dari pandangan. Sebab hanya kepentingan-kepentingan yang bakal mengikatkan diri pada sesuatu.

Menjadi terpelajar berarti mampu bertoleransi, mampu berpikir terbuka. Menerima sisi sebaliknya dari pendapat orang lain adalah sebuah pencapaian. Saya pernah tersenyum mewakili kebodohan diri sendiri ketika membaca kutipan yang ditemukan melalui postingan seseorang di sosial media:

In social issues class today our professor held up a black book and was like “this book is red” and we were all “no” and he said “yes it is” and we were just all “that’s not right” and he turned it around and the back cover was red and he said, “Don’t tell somebody they’re wrong until you’ve seen things from their point of view”

 

That speaks to me.

 

Penerimaan itu sendiri adalah sebuah pembuktian bahwa tak ada yang salah di dunia ini. Tidak untuk apa yang kita hidupkan pemantik api di dalamnya. Tidak untuk apa yang mereka junjung tinggi. Perlu disadari bahwa pola-pola sistem yang terstrukturisasi dan ditanamkan serta berakar dan bersarang dalam kebudayaan mayoritas enggan menganjurkan kita untuk menghargai perbedaan yang ada. Agaknya melihat mereka yang berbeda sebagai manusia adalah sebuah jalan –lagi-lagi membuat saya garuk-garuk kepala– pintas untuk menjadi pemenang. Demi menyelamatkan harga diri, manusia menginjak harga dari orang lainnya; Konteksnya jauh dari kualitas mereka yang diinjak, atribusi-atribusi sosial yang error dan mengandung bias-bias di dalamnya memporak-pondakan rasa hangat di dalam dada. Dimulai dari persepsi, hingga kemudian melahirkan bentuk diskriminasi-diskriminasi. Contohnya kecilnya kehidupan waria di Indonesia. Mereka yang menganggap orang-orang berbeda tersebut sebagai sekumpulan yang berkudis tanpa tahu harga kualitas para waria itu miliki, tak luput membuat senyuman tipis saya yang masih juga menemukan keberadaannya di atas wajah. Senyuman itu sendiri adalah sebuah pertanda bahwa saya masih harus belajar lebih banyak lagi dalam bertoleransi. Menerima dan memahami mereka yang tinggal dalam krisis-krisis diri.

Boleh jadi dualisme memang dibutuhkan di dunia ini. Atau memaklumi incommensurability, bahwa semuanya tak perlu lagi dibandingkan, biar masing-masing berjalan sendiri. Apa adanya, bukan apa maunya.

Saya kemudian teringat oleh tulisan yang dikagumi oleh soul-mate saya, Nadira, di ranah Antropologi dan telah dikirimkan olehnya tadi malam:

Incommensurability could be seen as a form of intellectual sterility — as the impossibility of breeding intellectually.

 

Saya masih belajar untuk benar-benar bisa mempraktikannya setiap waktu. Sebab menjadi terpelajar berarti tahu benar bahwa setiap teori (Grand Theory atau Middle-Range Theory) akan lebih berarti jika fungsinya dipakai di field-nya masing-masing, jangan dipaksakan untuk menjadi layak di ranah lainnya. Misalnya saja ajaran-ajaran agama (Nurture/Culture), ia tidak akan bisa masuk dan menjadi layak dalam ranah sains ekstrimis yang memerlukan pembuktian keberadaan seperti contoh kecilnya Quantum Physics (Nature). Dalam agama, hanya terdapat sebuah keyakinan: tak lain dan tak bukan. Dalam sains, hanya ada sebuah proses pembuktian-pembuktian. Yo, moso kamu mau memaksakan adanya Tuhan di dalam ranah Quantum Physics?? Lebih lucunya lagi, apabila spiritualis intelektual masuk ke antara dua hal tersebut. Spiritualis intelektual (peleburan Nature & Nurture) yang saya maksudkan di sini adalah mereka yang berkutat di luar agama namun mempelajarinya di saat bersamaan, namun bukan untuk menjadikan diri mereka bagian dari agama. Mereka pun juga belajar tentang kedalaman sains hanya untuk menyambung benang merah antara keyakinan dan sains dibalik ketiadaan yang nyata tersebut. Tambah ngaco, toh?

science-vs-religion

Di sini incommensurability bisa terjadi. Di mana setiap teori tak perlu ada sebuah bentuk pemuliaan intelektual antara satu dan lainnya. Sebab setiap teori berjalan sendiri-sendiri menurut fungsi dalam ranahnya. Dikotomi (Nature vs Nurture/Culture vs peleburan Nature vs Nurture/Culture) memiliki peran di ranahnya masing-masing. Lagi, di sinilah teori incommensurability memiliki peran yang paling bijak untuk kehidupan kemanusiaan di atas bumi ini.

“Menjadi terpelajar menurutku itu cukup bijaksana untuk tidak memaksakan kehendak kepada orang lain dan incommensurability adalah hal yang indah.” -N

Menjadi terpelajar memang harus sebisa mungkin memaksimalkan fungsi kognitif di dalamnya; menggunakan rasionalitas dan tidak mudah termakan emosi. Berkaca pada akar budaya pribumi zaman kampeni Belanda dalam mengambil hak tanah dan para petani yang kemudian kehilangan rasionalitas di dalam pikirannya sebab merasa terancam akan menghasilkan amok yang membabi buta. Atau peristiwa 211 di Jakarta beberapa waktu lalu (konspirasi atau bukan, namun dampaknya berpengaruh besar pada mereka yang belum menjadi terpelajar).

Barangkali memang benar, memahami mereka yang belum menjadi terpelajar adalah sebuah hal yang menjadi tantangan untuk memaksimalkan fungsi kognitif yang kita miliki.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.” –Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia)

Ketika sudah bisa menjadi adil dalam pikiran dengan menjadi berani jika perjalanan mencari kebenaran berarti menerima hipotesis kita terpatahkan, menanamkan sifat manusia modern untuk diri, mampu bertoleransi dan berpikir terbuka, serta memaksimalkan fungsi kognitif untuk menyentuh kedalaman, kita harusnya tak lupa untuk menanamkan usaha-usaha kemajuan peradaban sebagai perbuatan/prilaku.

Dalam ranah yang kita kuasai –ranah yang kita kerucutkan dan memiliki kedalaman– haruslah dapat memiliki daya guna dalam kemanusiaan. Bukan hanya sebuah pemuliaan intelektual yang mengikat sebagai kepentingan proses pemberian makanan untuk ego yang kita miliki sendiri dalam pembentukan kesan dan ke-superior-an yang menyembunyikan ke-inferior-an diri, melainkan penurunan ilmu yang memerlukan penyesuaian terhadap perkembangan zaman tersebut. Maka setelah dapat membuka ruang kontemplasi kembali atas apa yang telah saya rangkap menjadi sebuah tulisan, di sinilah menjadi terpelajar akan menemui makna sebagai sebuah peran untuk perjalanan panjang cinta terhadap peradaban kemanusiaan dari satu generasi ke generasi lainnya.

We talk it all out

with the sole purpose of being the righteous one.

We often forget that we haven’t made, at least, a real contribution to society itself.

 

And each glorious time we think we win,

we lose.

Tagged , , , , , , , , ,

Noise: Sebuah Perjalanan Menemukan Diri

Sound is the physical vibration which we feel and let inside our bodies.

Music is an order of sound vibrated in a certain way that pleases our brains and sometimes.

Noise is everything else in between.

Memilih datang untuk menambah pengalaman ke acara Jogja Noise Festival 2017 menjadi sebuah hal yang patut disyukuri pada akhirnya. Untuk orang seperti saya yang menjadi penikmat musik di manapun berada, kejanggalan dan kebisingan JNF yang diadakan di Yogyakarta adalah sebuah kemualan yang menjadi-jadi pada awalnya. Bisa terjadi di beberapa sesi entah karena frekuensi suara yang begitu tinggi atau isi kepala yang belum dapat menikmati. Seiring berjalannya waktu, setelah akal yang selalu merayu badan untuk pergi ke mana saja selain dari sana, perlahan dengan belajar menutup mata dan menerima segala noise yang berputar tanpa henti di setiap sesi, saya pun mulai menikmati remuk redam itu sendiri.

Beragam hal yang terjadi membawa saya kembali ke dalam kenangan pertunjukkan tarian Volution/Groove Space karya Sebastian Matthias yang ditampilkan dua tahun lalu di Salihara. Tidak hanya tari, karya ini juga menggabungkan antara kebisingan ruang perkotaan, tubuh, gerakan, dan irama. Mereka menari bukan di atas panggung, melainkan berbaur bersama penonton. Sungguh bukan sebuah acara yang monoton.

Dan kedua hal itu mengingatkan saya tentang sebuah kutipan dari sebuah novel Haruki Murakami yang berjudul Dance, Dance, Dance.

 

“You gotta dance. As long as the music plays. You gotta dance. Don’t even think why. Start to think, your feet stop. Your feet stop, we get stuck. We get stuck, you’re stuck. So don’t pay any mind, no matter how dumb. You gotta keep the step. You gotta limber up. You gotta loosen what you bolted down. We know you’re tired, tired and scared. Happens to everyone, ok? Just don’t let your feet stop.”

 

Noise adalah sebuah perjalanan menemukan diri. Spiritual yang berelegi.

Ada harmoni di sana.

Ada tenang di sana.

Ada ritme yang berkelana di balik kebisingan yang merajalela.

Sebuah nada antara kau dan aku yang melebur menjadi satu.

What’s Real Anyway?


In the middle of practicing being in present with strangers at Randusari waterfall, the mind distracted her away. She slowly rubbed one cheek with the palm of her hand and asked a question to herself, “What’s real anyway?”
Her mind wandered to a stranger she met in Ubud 4 years ago.

The stranger told her that it’s all in her. 

She didn’t get it before. 
For years she had kept asking the universe for the truth. All the things she has had -people, moments, and experiences- somehow brought her closer; Consciousness is real. The only real thing perhaps.
She even stays to walk on the path up to now. Because by only knowing will not make her complete. She gotta feel her love existence as a whole; The love that loves the love itself. That’s why no matter how much suffer she is, she keeps practicing to be fully aware of being until the end of her.
It’s all in you. She will never forget those stranger’s eyes. 
The ring bells. She comes back from the depth darkness of the mind-well. She is being grateful to the waterfall for whatever it has brought for her this afternoon.
It’s all in you.

Aku Berbicara Dengan Kemaluanku

Malam ini aku berbicara dengan kemaluanku setelah dibawa ombak kenangan pada kemaluan perempuan-perempuan yang pernah ditemui.

Adalah kata maaf terucap untuk anak yang tak akan pernah keluar dari rahim melaluinya; Keengganan telah lahir dan tumbuh dengan mesra dalam janji untuk diri sendiri.

Hanya agar tak ingin anak itu suatu hari nanti, bertanya-tanya pada semesta dalam sunyi dan tangis yang ia nikmati, tentang perihal “untuk apa aku dilahirkan di dunia ini”.

Selamat Malam, Jakarta.

Selamat malam, Jakarta.

Perlu kau tahu bahwa sore ini telah menyapaku untuk berbincang dengan seorang perempuan yang tak bisa lagi kutemukan pendar di dalam matanya. Begitu nelangsa, membuat betah untuk berteduh walau hanya sementara. Seperti cerminan diri yang tengah duduk berhadap-hadapan, namun tak kutemui keberadaannya.

Oh,

Jakarta.

Kali ini kau telah berhasil memberi tarikan nafas teramat dalam ketika orang-orang lalu lalang menyibukkan diri untuk membunuh waktu. Dan realita pun enggan berkesesudahan berbau ironi.

Barangkali kebersamaan kami sedang ditendang semu; Serupa anjing berkudis yang tak hentinya dipanggil najis.

“Berhakkah aku untuk mati?”

Dua cangkir kopi tanpa gula di antara kami berdua sudah terlalu dingin untuk diseruput kembali.

“Aku ingin hidup. Aku tidak merasa butuh dicintai. Apalagi merasa bahagia. Aku tak menginginkan apa-apa lagi kecuali hidup itu sendiri. Namun, berhakkah aku untuk hidup? Sebab mati saja tak menginginkanku.

Aku lelah.

Ingin pulang.

Dulu sempat menyambangi rumah, yang kutemukan hanya mata yang bernanah. Sebab terlalu banyak tangis di tiap-tiap malam yang selalu memberi kelam.

Aku lelah.

Suara-suara dalam kepala ini terus saja berulah.

Barangkali esok mereka tak akan kembali. Namun, siapa bisa mengira? Minggu depan, mereka diam bersama sepi. Bulan depan, terus memaki. Tahun depan, mereka mungkin memang kembali memberi celah yang berambisi, agar bunuh diri.
Segala telah kucoba.

Semua candu yang berimbas merugikan, apalagi semua hal yang bersifat menenangkan. Tidak ada satupun jua yang meringankan punggung untuk memikul beban.

Entah. Lagi-lagi entah.

Aku lelah.

Tak ada kata tuntas yang dapat mengenal batas.”

Bersabarlah sebentar lagi. Kau tahu lenganku lapang untuk disandari. Sebab suara-suara itu masih juga sama menunggu mati.

“Lara, yang bisa kita lakukan hanya menunggu mereka berani,” jawabku dalam hati.

ANAPANASATI: BECAUSE MIND IS A WILD ANIMAL

Cobalah berhenti sejenak untuk bernafas agar menjadi lega. Lalu kamu akan tertawa. Sebab tetap saja setelahnya segala mulai mengerumuni kekosongan di dalam kepala. Ia menolak untuk membisu. Andai saja pikiran itu memudar, maka banyak orang akan merasa kehilangan arah. Mungkin mereka belum terbiasa atas hening yang memberi nikmat ketenangan.

Namun bukankah kita, manusia, adalah sesuatu yang tidak lebih dari ketiadaan? Tidak kali pertama saya tersentak oleh eksistensialisme, sebuah wujud kebenaran semesta, kalau saja masih ada yang selalu bertanya tentang tujuan hidup ini yang tak satu setanpun tahu seperti mengutip tulisan Soe Hok Gie sebelum kematiannya. Apalagi sebuah rasa yang datang dan menuai nyeri di dada ketika Gaspar Noe sendiri berucap “Living Is A Selfish Act” dalam filmnya yang berjudul Seul Contre Tous (I Stand Alone). Saya menonton film itu dua bulan lalu, dan yang dapat ditemui dalam film ini, tak lebih dan tak bukan, hanyalah suara dalam kepala lelaki tua yang penuh ironi dan menuai pembenaran terhadap keyakinan yang terus bertahan tanpa henti saat diterpa oleh badai realita.

schizophrenia

Lalu bagaimana dengan para penderita schizophrenia di luar sana? Bukan hanya itu, para penderita insomnia dan penyakit kejiwaan lain nyatanya memiliki masalah yang sama. There is no such thing more dangerous than the mad sounds in our minds. 

“My thought is me: that’s why I can’t stop. I exist because I think… and I can’t stop myself from thinking. At this very moment – it’s frightful – if I exist, it is because I am horrified at existing. I am the one who pulls myself from the nothingness to which I aspire.” – Jean-Paul Sartre

Meleburkan diri seutuhnya dalam Nausea yang dituliskan oleh Jean-Paul Sartre bisa jadi berupa satu pengalaman yang tidak pernah bisa dideskripsikan. Alih-alih melahirkan orok penolakan, muncullah Descartes, seorang filsuf perancis, dengan senggolan menukik tajamnya; Cogito Ergo Sum (Aku berpikir maka Aku ada), rasa-rasanya menjadi sebuah kebenaran mutlak. Tak pernah ada pikiran yang terlahir kecuali atas kehendak si pemikir sendiri. Tak pernah ada aku.

We all have struggled with a thing called mind games for too long.

Kalau saja tak acuh mencari cara untuk mengembalikan pikiran tadi terhadap kekosongan yang berisi dan isi yang berkekosongan menjadi satu-satunya pilihan, wajarlah jika banyak manusia terus berada dalam gejolak pikiran yang tak akan pernah ada habisnya.

Beberapa solusi yang telah saya temukan dan jalani, salah satunya adalah Anapanasati (Respiration Awareness).

Titik awal pencapaian dapat diperoleh dengan merasakan nafas itu sendiri. Sudikah kita kiranya sadar bahwa kebanyakan dari masing-masing yang memiliki kehidupan seringkali lupa bernafas? Kita seringkali lupa benar-benar merasakan bahwa nafas itu ada, selain setelahnya diikuti oleh kesadaran yang lebih besar, bahwa nafas itu sendiri adalah sebuah hal paling penting karena ia telah memberi makan Roh yang menggerakkan Daging ini sepanjang waktu.

Manusia telah lama luput atas kesadaran yang amat begitu mudah dan sederhana dibandingkan dengan kerumitan persoalan hidup yang mereka hadapi. Karena itu untuk bergumul dengan empati dalam diri tak pernah membuat saya lelah memberi kebaikan pada sesama.

It’s all in your mind. And I guess it’s true. Whether you like it or not, mind is a wild animal. Thus you got to tame your own mind for it is the only way to reach the crown of life.

Tagged , , , , ,

Sementara telinga yang ketiga, ada di dalam dada.

Selalu ada kata-kata yang terlalu manis untuk diucapkan. Ada pula kata-kata yang bisa membunuh jika kau memberinya makan. Namun dengan hati yang hangat, kata-kata itu pula akan membantumu untuk menyelimuti mereka, yang tak disertai dengan kesadaran, telah kedinginan di sepanjang kehidupan yang mereka punya.

Udara yang saya hirup pagi ini terasa berbeda. Setelah seperti biasa minum segelas air putih dan membakar rokok, saya kemudian turun ke bawah untuk membuat secangkir teh manis panas. Kalau hari-hari sebelumnya tidak bisa menjalani pagi tanpa secangkir kopi, mungkin musim kini telah berganti. Saya sedang ingin yang manis-manis. Hihi. Centil ya. Tapi memang begitulah yang saya ingin coba jalani. Ternyata hidup lebih manis dari apa yang indra perasa kita bisa rasakan.

Lalu suara-suara itu kembali berbisik memanggil lagi. Ia berbisik dengan amat pelan hingga hanya sekujur tubuh yang kemudian merinding mendengarnya. Sejujurnya saya tidak bisa menjelaskan bagaimana semua kata-kata itu telah berhasil membuat saya harus terus hidup dan berjuang.

Seperti yang Djenar Maesa Ayu pernah tuliskan dalam bukunya berjudul T(W)ITIT:

Nayla punya tiga telinga. Yang dua, ada di samping kanan dan kiri kepala seperti manusia pada umumnya. Sementara telinga yang ketiga, ada di dalam dada. Dari kedua telinga yang ada di samping kanan kiri kepalanya, Nayla bisa mendengar orang berkata-kata. Dari telinga yang ada di dalam dadanya. Nayla bisa mendengar hatinya berbicara.

 

Dalam hitungan detik saja tiba-tiba semesta ikut berbicara. Hujan lebat turun tanpa dapat diprediksi lebih dulu. Saya tertawa geli. Rasa-rasanya selama ini saya lebih sering berdialog dengan alam dibandingkan manusia. Karena manusia tak akan pernah mendapatkan konsep pemahaman yang saya bicarakan. Mereka pikir saya gila. Atau seringkali mereka pikir saya hanya pecundang yang berbicara omong kosong semata. Ikhlaskanlah, diri; diantara semua yang menyakitkan itu seringkali alam membuka kedua lengannya untuk memeluk saya, yang seringkali menangis di dalam hati, ketika mengingat semua hal itu.

Barangkali tanpa harus menikmati kesedihan yang berlarut-larut, saya lebih memilih untuk kembali mendengarkan panggilan dari suara-suara hati yang merupakan hal paling penting itu sendiri. Suara itu berbicara tentang kehidupan; Yang bagi kebanyakan orang lain mungkin tak akan menjadi sebermakna itu. Bahkan mungkin mereka akan terus menertawakan jika saya menyuarakan ini melalui media “lidah yang tak bertulang”. Jadi seperti biasanya, saya lebih suka menyuarakan ini semua melalui media tertulis.

Untuk apa hidup jika bukan tentang kasih sayang, berbagi makna, dan menurunkan ilmu? Sungguh saya tidak tahu lagi. Bahkan atas ketidaktahuan yang semena-mena itu, bisa saja saya akan menarik diri ini menjadi seorang yang ambisius terhadap uang dan pengakuan manusia terhadap apa yang saya miliki. Mau itu usaha, karir yang melejit, atau pengakuan nama. Namun itu semua tidak lagi begitu berarti di mata saya. Semua lebih tampak semu dan membuat saya lemas tak berdaya. Ketika uang dan pengakuan itu sendiri pada akhirnya yang menghancurkan kembali. Membuat saya lebih tidak bahagia dibandingkan hari ini. Mereka akan membawa saya tersesat pada hal-hal yang begitu tampak nyata di mata orang-orang dan menjadi ilusi paling membuat ngeri diri. Saya tak ingin menjadi buta. Saya ingin terbangun dengan memberi makan jiwa ini lebih banyak lagi.

Ini resiko yang akan kita ambil bersama, Brida. Dalam hidup setiap orang bisa mengambil satu dari dua sikap: membangun atau menanam.

 

Para pembangun mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun menyelesaikan pekerjaan mereka, tapi suatu hari, mereka menyelesaikan apa yang mereka lakukan. Kemudian mereka sadar bahwa mereka terkurung oleh tembok-tembok mereka sendiri. Hidup kehilangan maknanya ketika pembangunan berhenti.

 

Lalu ada pula mereka yang menanam. Mereka bertahan melewati banyak badai dan segala perubahan musim, dan mereka jarang bisa beristirahat. Tapi, tidak seperti bangunan, kebun tak pernah berhenti tumbuh. Dan selagi kebun itu membutuhkan perhatian penuh tukang kebun, kebun itu juga membuat hidup sang tukang kebun menjadi petualangan besar.

 

Para tukang kebun selalu mengenali satu sama lain, karena mereka tahu bahwa dalam sejarah tiap tumbuhan, Dunia ikut berkembang.

 

-Paulo Coelho

 

Pada erangan jiwa yang secara sembunyi-sembunyi di dalam cangkang daging label manusia itu, saya merasakan penderitaan yang sangat mendalam. Empati itu tak bisa ditolak.

Sekali lagi saya mendengar kembali suara itu. Suara yang akan saya terus ucapkan berulang-ulang di dalam hati. Suara yang akan membuat saya terus bertahan hidup; karena tugas itu belum selesai. Dan karena itu juga saya belum siap untuk mati.

Beberapa tahun kedepan kita akan bertemu di dalam sebuah ruang yang mereka beri nama kelas. Akan kugenggam kalian untuk tumbuh. Akan kuurus kalian sebagai anak-anakku sendiri. Atau mungkin juga akan kutemani kalian mengganja. Dan untuk segala waktu dan jerih payah ini, ia adalah milik kalian semua.

Semoga semesta memberi jalan terbaik untuk saya yang kedepannya akan berjanji setia melayani manusia dengan sepenuh hati.

13 Oktober 2014. 19:54.

Tagged ,

Disconnect To Connect

Saya pernah mengalami masa itu. Masa di mana jarang sekali merasa sadar dan menyatu dengan apa yang benar-benar terjadi di sekeliling, melainkan di dalam telepon selular yang saya genggam.

Rasa-rasanya slogan kampanye Nokia yang berbunyi “Connecting people” beberapa tahun silam, konon sekarang telah berubah menjadi “Connecting phone” saja. Karena bertemu muka dan bercakap-cakap secara langsung sudah kehilangan esensinya.

Semakin kemari, semakin saya berpikir panjang ketika memikirkan kembali diri yang sempat berlama-lama menyelam di dalam layar handphone yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihat yang itu-itu saja; Sebosan itukah kita terperangkap dalam kehidupan?

Bahkan banyak sekali yang kemudian merasa gelisah jika saja si handphone tiba-tiba kehabisan baterai dan tidak ditemukan colokan di sekeliling. Atau ketika paket data habis dan tidak ada wifi. Paling bahaya adalah ketika si telepon genggam itu sendiri hilang dari genggaman. Losing your phone is more dramatic than getting a D for final test. Alangkah lucunya!

Setelah hampir melalui masa dua minggu tanpa terlalu sering melihat handphone dan juga sukses deaktivasi akun social media, I started being more present. I realized that when I disconnect from the outside world, I could start feel more connected with myself afterwards.

Apa yang salah dengan kebanyakan dari kita?

Apakah dengan memiliki kebahagiaan yang sudahlah semu di dunia fana, haruskah kini beralih menjadi lebih amat semu di dunia maya?

Telah banyak yang saya coba pahami ketika masih aktif membaca maupun memposting di akun-akun yang telah saya deaktivasi itu. Ketika bencana alam menerpa, perang yang terjadi di belahan dunia manapun beserta korban yang tidak mereka kenal itu… malahan menjadi lebih sukses menarik seluruh perhatian satu-persatu dari mereka.

Ironinya, mereka melupakan orang-orang terdekat. Yang mungkin menjadi yang terburuk, kalaulah mereka memiliki keberanian, akan lebih memilih untuk mengakhiri hidup dengan cara yang paling tidak mengenakkan untuk didengar.

Bahkan saking muaknya saya pada satu momen bencana alam di Yogyakarta waktu itu, kemudian saya dengan terang-terangan memposting tulisan yang menertawakan segala perilaku mereka. Mirisnya, yang mengatakan “saya bukan seorang manusia yang memiliki hati” adalah orang-orang yang cukup dekat. Lalu dengan seenak jidat, saya memposting angka kematian korban bunuh diri yang telah diambil dari sebuah hasil survey terpercaya. Kemudian hening.

Apakah rasa peduli terhadap sesama kini hanya berupa ingin diakui saja? Agar orang lain bisa melihat kalau kita adalah yang paling humanis diantara segala. Agar ini. Agar itu. Eh?!

Mama di rumah tugasnya bangun, nyiapin makanan, seterusnya cuma nunggu anak-anak sama Bapak pulang, yang ditunggu malah kemudian semuanya sibuk sama handphone masing-masing. Mama hidup sama siapa sih?! –EMAK

Dan kalimat barusan yang telah bertahun-tahun lamanya saya dengar baru saya sadari, alami, dan rasakan sekarang. Bagaimana jengkelnya diajak bertemu oleh beberapa orang di luar, tak pernah ada yang benar-benar being present di depan mata. Di rumahpun masih begitu. Saya bahkan masih jarang menemukan kehadiran Bapak, Adik, dan Kakak. Ungkapannya ya begitu, sama seperti yang dikatakan Ibu.

Phones are tools; we are at risk of trying to extend their limitations. It is a poor substitute for real interaction, presence, experience, and connecting.

Disconnect to connect.

We always tend to be late for everything.

Tagged , ,